Showing posts with label Duh Nikmatnya... Show all posts
Showing posts with label Duh Nikmatnya... Show all posts

Sunday, October 1, 2017

8. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..

Kemudian tangannya bergeser. Robet mulai melepasi busanaku. Jari-jarinya cepat membuka kancing-kancingnya. Kemudian tali BH-ku ditariknya dan lepas. Hampir serentak, blus dan BH-ku merosot dan jatuh ke lantai. Sambil merabai penisku, jarinya melepasi kancing celana jeansku. Didorongnya turun hingga aku tinggal memakai CD-ku. Saat aku hendak melepas sepatu hak tinggiku, dia berbisik menahan,

"Tunggu.. ", hampir tak terdengar olehku.

Dia menuntun aku ke sofa empuk yang ada di kamar itu. Aku disuruhnya duduk sementara dia bersedeku dengan lututnya berada di lantai menghadap ke aku. Diraihnya satu tungkai kakiku dan diangkatnya. Dia mulai mencium lagi.

Kali ini dia menciumi hak sepatu tinggiku. Kemudian nampak dengan sepenuh perasaannya Robet mencium dan melumati sepatuku. Diangkatnya kakiku lebih tinggi. Dia berusaha lidahnya menggapai jari-jari kakiku di ujung sepatu. Lidahnya melata menjilati hingga tumitku yang putih bersih ini, sementara tangan kirinya mengelus dan meremasi penis dalam CD-ku.

Ciumannya merambah terus melaju ke betisku. Saat bibirnya menyentuh betis aku sepertinya disambar sengatan listrik. Aku terlonjak kecil dari sofa. Kegelian syahwat langsung menerpaku dan membuat aku menggelijang.

Robet melumati seluruh permukaan betisku dengan penuh greget. Kudengar erang atau desah dari mulutnya, "Lliss.., Lliss.. Lissa Ramoonn.. ".

Penisku semakin berdiri ngaceng. Kemudian diletakkannya kembali satu kakiku itu untuk meraih kaki yang lain. Dia mengulangi apa yang dilakukan sebelumnya. Kakiku yang lain dilumatinya dari hak sepatu hingga ke betisku. Robet telah melihat penisku yang tegak dan kaku, tetapi dia menahan diri untuk belum menyentuhkan bibir atau lidahnya.

Bibirnya meneruskan rambahannya yang kini sampai pada lutut untuk melaju ke pahaku. Gigitan-gigitan gemas pada lututku sungguh membuat nafsu seksualku melonjak. Darahku serasa tersekat, nafasku jadi sedikit tersengal dan membuat sesak dadaku. Dan gigitan pada lututku itu mengakibatkan seluruh saraf birahiku terbangun. Ribuan anai serasa merambati seluruh wilayah pekaku. Aku merintih menahan kegelian birahi yang sangat.

Aku terbangkit bangun. Kuraih tak tertahan kepala Robet. Kujambaki rambutnya. Aku ingin menghambat laju gigitannya pada lututku itu. Dan sepertinya Robet acuh saja sambil melanjutkan rambahan bibirnya ke paha. Dengan penuh kegemasan dia melumat pahaku. Jilatan dan kecupannya beruntun hingga membuat pahaku kuyup oleh ludahnya.

Aku benar-benar tak mampu mengendalikan diriku. Tubuhku berpilin menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Dengan jatuh bangun aku benar-benar ingin menahan ciuman dan jilatan Robet. Tetapi mana mungkin?Posisi tubuhnya yang berada diantara paha pahaku membuat tubuhku terkunci. Tangan-tangannya memeluki ketat kedua tungkai kakiku dan mukanya siap untuk dibenamkan ke selangkanganku. Aku benar-benar tersiksa.

Prahara nikmat ini menerjang dan melandaku. Membuat aku sangat menderita. Tetapi kuakui aku tak hendak menyingkirkan semua ini. Yang aku cari kini adalah sarana untuk mengkompensasikan deritaku ini menjadi nikmat sepenuhnya. Aku memerlukan pegangan. Akhirnya tanganku meraih kain penutup sofa Hyyat Regency ini. Aku remas-remas seakan hendak menyobek-sobeknya.

Aku tarik lepas dari tempatnya hingga sofa ini nampak awut-awutan. Ternyata Robet kembali menahan dirinya. Dia tidak membenamkan mukanya ke selangkanganku. Dari paha dia bangkit dan melepasi kemeja serta celananya. Tinggal CD-nya yang menampakkan gembungan kemaluannya yang telah mengeras Robet merebahkan tubuhnya menindih tubuhku.

Kembali aku bergidik dan merinding. Benar perkiraanku, tangan, lengan, dada dan paha atau tungkai kaki Robet penuh ditumbuhi bulu-bulu.

Wwooww, Robet.. Sinii.. Biar kujilat dan 'kemot-kemot' bulu-bulumu itu, desahku.

Sungguh aku sangat terobsesi. Dia rengkuh dadaku. Memelukku sambil kembali mendaratkan bibirnya ke bibirku. Kami berpagut. Dia sedot ludahku seakan hendak dikeringkannya mulutku. Lidahnya menyeruak berputar-putar di rongga mulutku. Bulu-bulunya yang serasa menggelitik tubuhku itu membuat aku mendesah kenikmatan. Demikian pula dia. Kami benar-benar saling menikmati ciuman yang terasa semakin meningkatkan nafsu birahi kami.

Kemudian Robet merambah leher, bahu dan membuka lenganku untuk membiarkan bibir dan lidahnya melata ke lembah-lembah dan lereng ketiakku.

Wwuuhh.. Robettzz..

Sungguh tak bertara kenikmatan yang meghanyutkanku. Jari-jari tanganku meremasi punggungnya. Situasi syahwat kami ternyata berkembang sangat laju. Robet ingin analku menjemput kemaluannya. Dia merubah posisinya. Dia duduk bersandar ke sofa sambil menghela tubuhku ke pangkuannya.

Kembali kami berpeluk dan berciuman. Kurangkul bahunya sementara tangan Robet merengkuh pinggulku. Dia angkat sedikit tubuhku agar pantatku berada tepat dalam titik kemaluannya yang telah demikian tegak dan berkilatan kepalanya. Aku tahu. Robet ingin selekasnya merasakan penisnya dalam jepitan analku.

Aku mengangkat sedikit pantatku sambil tangan kananku meraih penisnya untuk ku-pas-kan menusuk lubang anusku. Dan tak banyak kesulitan. Anusku yang memang telah siap langsung menelan amblas kemaluan Robet. Kini aku yang memompa. Aku menaik turunkan bokongku. Slurp., slurp., slurp.. Penis Robet keluar masuk ke analku. Kami lantas saling mempererat pelukkan untuk menikmati apa yang sedang berlangsung ini. Sesudah sekian waktu, Robet ingin merubah posisi.

Tanpa melepas penisnya dari anusku dia rebahkan aku dan kembali menindihku di sofa sempit ini. Diangkatnya satu kakiku untuk lebih membuka pantatku. Dan gerakkan memompa kembali berulang. Hanya kini yang harus beraksi adalah Robet sendiri. Aku menggoyang pantatku karena nikmat yang tak tertahan ini. Tanganku mulai meremas-remasi dadaku sendiri. Jari-jariku memilin-milin pentilnya.

Wwuuzz.. Roobetzz.. Tusukkan penis Robet makin cepat. Slurp, slurp, slurp..

Kulihat matanya tertutup sambil bibirnya meracau, "Lizz, lizz, Lizz.. Lizzaa.. ".

Pada suatu saat, dalam desakkan birahinya yang semakin tak tertahankan, dengan penuh gegas dia bilang, "Kamu nungging, Lizz.. ",

Ahh.., dia telah berada di ambangnya.. Dan dia mau menyodomi aku dalam gaya 'anjing ngentot' atau 'doggy style'. Wuuwww.. Ini juga gaya kesuakaanku. Aku cepat berbalik dan nungging. Dengan kepalaku yang bertumpu pada tangan-tangan sofa, lubang pantatku menjadi terbuka dan siap menerima tusukkan penis Robet.

Dan terjadilah..

Robet mulai kembali memompa dengan frekwensi, kekuatan dan kecepatan yang lebih. Sesudah kemaluannya tepat keluar masuk ke anusku, aku mulai bergerak merangkak hingga tubuhku setengah membungkuk dan berdiri sementara tangan kananku berpegang pada sandaran sofa dan tangan yang lain me-'ranggeh' pinggul Robet untuk membantu percepatan tusukkannya. Kami sama-sama berayun dan menikmati penetrasi penis pada lubang anus.

Dan benarlah.. Robet nampak tengah bersiap menjemput orgasmenya. Dengan racauannya yang memanggil-manggil namaku terus menerus dia mempercepat penisnya keluar masuk ke lubang pantatku. Aku sendiri merasakan betapa nikmat setiap tusukkan ini. Aku tak lagi merasakan betapa panasnya lubang anusku saat menerima tusukkan yang semakin cepat ini. Aku ikut meracau dengan memanggil-manggil namanya.. Robetzz, Robetzz.. Betzz..

Dan saat puncak itu datang, tangan Robet menyambar kepalaku. Dia renggut rambutku. Dia tarik bagai tali lis kuda tunggangannya. Dia berpacu bak joki ditengah pacuan. Dia maju mundurkan sangat cepat penisnya hingga..

Ampuunn Betzz, amppuunn.., ampuunn.. Aku berteriak-teriak penuh kepedihan di pantatku, sementara sperma Robet menyemprot dan tumpahkan spermanya ke lubang analku. Pacuannya belum kunjung terhenti. Kedutan penis Robet masih datang beruntun yang disertai semprotan cairan kentalnya.. Aku yang demikian terbawa ke arus nafsu Robet, cepat menarik bokongku, berbalik dan menyambar penis Robet.

Aku pengin banget menerima semprotan spermanya ke mulutku. Masih beberapa tembakkan yang menyemprot yang kurasakan dalam rongga mulutku. Aku merasakan cairan kental hangat yang langsung kukecapi rasa gurihnya. Dengan penuh kerakusan nafsu, kutelan sperma Robet untuk menutupi kehausanku.

Demikianlah babak awal perjumpaan sayhwatku dengan syahwat Robet. Robet pesan makanan dan minuman dari room service. Kami istrirahat sejenak, ngobrol. Tanpa sengaja kami bicara berkaitan dengan profesi. Bukan maksudku untuk pamer pada dia, tetapi aku keceplosan bicara tentang sebuah teori managemen yang dia tahu tidak banyak orang yang memahaminya. Saat ngobrol tentang seks, aku bicara tentang Maslow dengan teori 5 jenjang kebutuhan manusianya.

Dia agak kaget, namun tersenyum. Ah, kamu pasti waria dengan profesi yang hebat. Dia nebak-nebak. Aku tidak tanggapi agar tidak keterusan. Dia hanya kembali tersenyum sambil,

"Biasanya waria khan hanya di salon-salon", sebagaimana kebanyakkan waria yang kerja di salon kecantikan.
"Atau jadi perancang busana",
"Kalau perancang busana bukan waria tetapi gay", aku coba nyambung lagi.

Berasyik masyuk bersama Robet sungguh menyenangkan. Akhirnya kurasakan betapa Robet menghargai aku sebagai teman intelek. Dia bilang 'nyaman berasyik masyuk' dengan seorang yang ber-profesi.
Aku menyetujui pendapatnya. Aku juga menikmati orang pinter macam dia. Malam itu aku melampiaskan obsesiku. Aku berkesempatan mengambil kendali.

Di atas ranjang Robet kulumat habis. Tak ada bagian tubuhnya yang kulewatkan. Lidah dan bibirku asyik meng'emot-emot' detail tubuhnya. Teristimewa bulu-bulunya yang terserak di segala tempat. Selangkangannya juga menebarkan aroma jantan yang sungguh merangsangku. Bulu-bulu analnya sempat menari-nari di rongga mulutku. Robet pengin aku me-nyodomi pantatnya itu. Dia tidak takut dengan kemaluanku yang gede. Dia berteriak histeris saat aku memuncratkan spermaku dalam lubang pantatnya.

Entah berapa kali kami saling meraih orgasme malam itu. Aku keluar dari kamarnya sekitar pukul 6 pagi, saat semua orang baru bangun atau sibuk di fitness centre, atau bersiap mau ke bandara. Aku panggil taksi yang banyak mangkal di Hyyat Regency Hotel itu.

Ini hari terakhir acaraku di Surabaya. Akhirnya 'kelakon' juga keinginanku. Aku sangat menikmati 'full waria'-ku yang hampir usai ini. Hari ini aku habiskan waktuku untuk keliling kota Surabaya bersama Bella dan satu teman lamaku lagi Nancy yang cantik itu. Dengan busana wanita yang sangat sensual kami naik turun bus dan naik turun taksi. Kami juga pergi ke Kebon binatang dan makan sea food di pantai Genjeran. Semuanya atas biayaku. Aku menerima banyak amplop uang dari teman-teman kencan selama di Surabaya ini. Aku tak pernah membukanya hingga pagi ini.

Ternyata isinya lebih dari modal yang telah kukeluarkan untuk bersenang-senang ke Surabaya ini. Bahkan lebih. Aku bagikan sebagian untuk Bella dan Nancy sebagai bentuk terimakasihku. Malam terakhir kami lewatkan untuk nongkrong dan ngobrol bersama teman-temanku di jalan IB. Kami pulang dari IB sekitar pukul 12 malam.

Kami tak sempat benar-benar bercumbu 'three some' antara aku, Nancy dan Bella. Tetapi kami melakukan sekedar obat kangen. Kami saling pagut dan remas. Hanya Nancy yang sempat mendapatkan orgasmenya. Aku bersama Bella menampung puncratan spermanya di mulut, di pipi serta dagu-dagu kami.

Ah, Nancy yang manis, yang tetap nampak 'innocent' sejak aku pertama kali melihatnya beberapa waktu yang lalu di Surabaya yang sama. Besoknya jam 7 pagi aku sudah berada di taksi menuju bandara. Aku tidak membawa kembali busana wariaku. Semuanya kutinggalkan pada Bella dan sebagiannya ke Nancy.

Kubayangkan merubah diriku kembali menjadi Norman ternyata lebih rumit. Toilet pria biasanya lebih ramai dan akan lebih mengundang perhatian apabila aku masuk ke dalamnya. Sejak dari tempat kost memang sudah kupikirkan semuanya ini. Hari ini aku tidak lagi menggunakan kosmetik dan parfum. Aku juga telah memakai jeans yang memang kesukaanku.

Di dalam taksi dimana aku duduk tepat di belakang sopir, kubuka tasku dan kukeluarkan satu lembar T. Shirt-ku. Secepatnya blusku kubuka untuk kuganti dengan T. Shirt. Dengan cermin kecilku kuamati wajahku untuk melihat sisa kosmetik kalau ada yang teringgal. Saat turun dan membayar ongkos, kulihat sopir taksi sedikit bengong. Aku telah berubah menjadi pria yang tampan.

Aku berjalan dengan gagah masuk ke ruang boarding pass. Tak ada lagi mata-mata penuh birahi memandang ke arahku. Aku berbaur dengan calon penumpang lain.

Jam 11 siang aku telah berada di taksi yang tersendat-sendat karena kemacetan menuju rumahku di Bintaro, Jakarta.

7. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..



Kulitku yang cerah membuat bikini hitamku nampak kontras indah menggiring mata-mata haus melata pada tubuhku. Buah dadaku memang tak menjanjikan macam para bitang di serial Baywatch, tetapi aku yakin pinggulku nampak sangat seksi.

Sementara Bella memang lebih sempurna. Pinggulnya indah dan buah dadanya juga sangat indah. Ah.. Aku bangga berteman dengan dia. Kami menuju tangga kolam. Kami melangkah ke anak tangganya dan menapaki turun. Kami mulai dengan membasahi tubuh sebelum benar-benar nyebur ke kolam. Aku rasakan betapa para lelaki terbakar hasratnya. Mata mereka tak bisa menyembunyikan hati mereka. Aku perkirakan sebagian yang sedang berendam di air mengelus-elusi penisnya.

Tak ada suitan atau suara-suara miring untuk kami. Mereka berpegang pada etika bagaimana berenang di tempat umum. Apalagi ditempat berkelas seperti Novotel ini.

Sesudah melakukan pemanasan, aku berenang dengan gaya katak bolak balik dan memutari sudut-sudut kolam. Terkadang aku menyelam. Pada saat menyelam ini aku berkesempatan untuk untuk melihat situasi medan. Kulihat ada kaki-kaki yang bergorombol di sana atau ada serombongan kaki-kaki lain yang sedang mengayuh berenang.

Seseorang mengacungkan jempolnya padaku saat berpapasan menyelam di air. Sesudah beberapa kali mengitari kolam Bella mengajak aku naik ke sunken bar. Aku minta juice orange yang pekat. Seorang bapak-bapak, sekitar 50 tahunan, dengan penuh sopan dan seakan telah akrab menyapa kami,

"Enak, suz, renangnya?".

Dia duduk sendirian, tampangnya nge-bossy. Tubuhnya nampak gempal ber-otot. Atau mungkin pejabat atau ABRI? Aku tidak pasti.

"Hah, seger banget, pak", Bella yang menyahut.

Kemudian bisu sunyi. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok beradu gelas minuman. Kami masing-masing ngobrol dengan kelompoknya sendiri. Aku lagi jenuh. Sampai hari ke 4 tadi malam aku penuh dengan acara bercumbu. Aku lelah. Aku hanya kepingin berenang untuk menyegarkan kembali tubuhku.

Sesudah menghabiskan juice aku tinggalkan Bella untuk kembali nyebur ke kolam renang. Aku berenang hingga hari gelap. Bella ternyata tidak kembali ke kolam. Dia biasa datang ke tempat ini. Mungkin ketemu dengan orang-orang yang di kenalnya. Kelihatannya dia asyik ngobrol dengan orang-orang di sunken bar.

Sebaiknya aku menyudahi renangku. Aku naik dari air untuk mandi bilas di kamar ganti. Saat aku melewati deretan kamar ganti untuk menuju kamarku tiba-tiba ada suara 'sspp' di belakangku. Ah..

Kenapa suara itu ada disini pula? Aku terhenti. Kutengok ke arah suara itu. Seseorang nongol dari pintu salah satu kamar ganti. Ternyata bapak yang menyapa di sunken bar tadi.

"Suz, mau?", pertanyaan yang sangat singkat tetapi bukan main efektipnya.

Pertanyaan itu dia sertai dengan tangannya yang merogoh ke celana renangnya yang tanpa kuduga merogoh dan mengeluarkan kemaluannya. Dia pamer dan tawarkan kepadaku. Aku terkesima. Tak pernah terpikir penis bapak itu besar dan panjang macam itu. Dalam keadaan tidak atau belum ngaceng, batangnya menjuntai hingga kepalanya hampir menyentuh dengkulnya. Bagaimana saat ngacengnya?! Aku bengong.

"Aku pengin diisepin sama suz", sambil tangannya menggoyang-goyang batang panjang itu.

Darahku tersirap langsung naik ke-ubun-ubun. Kata-kata yang diucapkan dengan penuh vulgar itu seperti men-telikung kesadaranku. Hasrat birahiku langsung lepas me-liar. Perasaan jenuhku tadi langsung sirna. Aku diterpa godaan syahwat yang hebat. Aku diam tetapi jelas lumpuh dan menampakkan penyerahan. Bapak itu mendekatiku dan meraih lenganku.

Dia menyeret aku masuk ke kamar bilasnya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Rasanya tidak lebih dari 20 detik aku sudah dalam kekuasaan hasratnya. Di dalam kamar bilas, nggak tahu kenapa, aku begitu saja mepet ke dinding dan jongkok dengan mulutku yang langsung terbuka menganga. Tanganku bergerak meraih penis luar biasa itu, mengelusi dan mengocok pelan dengan mengarahkan lubang kencingnya ke arah mulutku. Aku ingin memenuhi keinginannya.

Bapak itu pengin aku mengisepi penisnya itu. Lidahku menjilat kepalanya, kemudian melumatnya. Rasa asin langsung menyentuhi saraf rasa dalam rongga mulutku. Precum bapak itu telah meleleh keluar. Aku mengulum dan memompa. Dan penis itu dengan cepat tegak, membesar dan mengeras hingga mulutku penuh. Aku semakin terbakar. Syahwatku menyala membara. Aku memompa dengan penuh semangat dan cepat. Aku ingin selekasnya merasakan tumpahnya air mani dari penis yang segede ini.

Aku ingin melumat-lumat kentalnya dan menelannya. Bapak itupun demikian. Dia ingin selekasnya menggapai orgasmenya. Aku rasakan betapa dia dikejar oleh hasratnya 'ngentot' mulutku. Dan ingin menumpahkan air maninya ke mulutku. Dia raih kepalaku dan memaju mundurkan pantatnya. Dia memastikan bahwa arah penisnya tepat di mulutku.

Saat aku menunjukkan tanda-tanda lelah memompa, dia cepat mengambil alih. Dia pepetkan kepalaku ke dinding sebagai tumpuan. Dan ganti dia yang memompa. Penisnya yang gede itu keluar masuk ke mulutku. Makin cepat. Makin cepat. Aku hampir tersedak saat ujungnya menyentuhi tenggorokanku. Bapak itu sama sekali tidak mengurangi intensitas pompaannya. Dan akhirnya, dalam kondisi penuh ketidak sabaran, dia melepaskan cairan spermanya.

Sepertinya waktu dia begitu sempit, penisnya berkedut besar dengan disertai tembakan cairan panas ke rongga mulutku. Berkali-kali itu berlangsung. Dari mulutku meleleh air maninya yang tak lagi tertampung, jatuh ke dagu terus ke dada dan perutku. Dia masih bilang dalam racaunya,

"Telan, ya, suz. Telan.. Telan.. Yaa", dan aku memang menelannya. Aku akan kecewa seumur-umurku kalau tidak menuruti keinginannya.
Air mani yang keluar dari penis segede itu.., uuhh.., aku nggak akan pernah menyesal.. Aku merasakan betapa gurihnya cairan bapak itu.. Aku masih mengecap-kecap nikmat spermanya ketika tiba-tiba bapak itu bilang,

"Terima kasih, suz, yaacchh.. ", sambil tangannya memasukkan kembali penisnya ke celananya. Dengan cepat dia menghilang keluar pintu sebelum aku sempat menyahuti omongannya.

Edaann..

Seluruh kejadian itu dari awal hingga akhir rasanya tidak lebih dari 3 atau 4 menit. Sungguh peristiwa seksual tercepat yang pernah kualami. Kenikmatan kilat! Edan! Bahkan aku nggak tahu siapa dia. Dengan agak terseok-seok aku menuju ke kamar bilasku. Rupanya Bella telah menunggu aku di luar. Aku mandi dan membersihkan segala noda. Sebelum pulang aku ngajak Bella ke coffee shop untuk sekedar minum panas. Aku menceritakan apa yang barusan aku alami.

Bella mentertawakan aku. Dia bilang ceritaku itu campuran antara tragedi dan komedi yang sarat dengan erotik masocisme dan erotic sadisme dengan kadar ringan. Bukan main si Bella, kaya dokter yang doktor saja..

Dia juga bilang, enak loh, pengalaman macam itu. Sambil matanya memandang dalam dan penuh arti padaku. Terus terang, walaupun aku merespon ucapannya dengan ikut tertawa, aku tak pernah tahu persis apa yang dia maksudkan dengan omongannya itu. Barangkali dia berpikir kenapa bukan dirinya yang mengalaminya. Sekali lagi aku tertawa.

Malam itu di jalan IB aku sama sekali hanya nongkrong di warung wak Sena. Rasa jenuhku kembali menyerangku. Beberapa lelaki berusaha membujuk aku. Aku tak bisa. Aku hanya ingin mengisi waktuku dengan ngobrol bersama teman-teman sesama waria di jalan IB ini.

Bella mendapat beberapa tamu yang cukup dipuaskan dalam mobil mereka atau dalam gubuk kardus di jalur hijau dekat jalan IB itu. Kami pulang ke tempat kost jam 1 malam. Rasanya aku perlu istirahat total. Besoknya aku baru bangun jam 11 siang.

Aku berada di hari ke 6 'full waria'-ku. Aku perlu konfirmasi tiket Garudaku untuk hari lusa. Aku keluarkan HP-ku untuk telpon ke kantor Garuda Surabaya. Aku sengaja matikan HP-ku beberapa hari selama berada di Surabaya ini. Aku tidak ingin diganggu macam-macam. Terutama oleh kantorku atau pekerjaanku. Kulihat ada lebih 20 pesan SMS memenuhi HP-ku. Biarlah aku lihat..

Pertama dari kantorku. Pesannya, Mohon bpk telpon ke surya. Aku pencet option dan pilih delete.
Kedua dari kantorku juga. Isi pesan, Apa kabar. Surya. Aku pencet option dan pilih delete. Ketiga dari Bardi stafku, Bapak sehat? Kapan pulang? Aku pencet option dan pilih deleteKemudian aku scan untuk cepat melihat SMS dari siapa saja. Sudah kutebak. Semua dari kantor.

Kubersihkan layar monitorku. Aku suruh Kirman pelayan tempat kost untuk membelikan nasi bungkus Padang. Sesudah makan aku ngobrol sama Bella. Ngantuk. Aku tidur lagi sampai jam 5 sore.

Aku bangun dengan perasaan seakan lahir kembali. Badanku yang sangat nyaman dan segar. Aku mandi air panas yang disiapkan oleh Kirman. Aku usul pada Bella bagaimana kalau makan ke MD Darmo Plasa sebelum ke jalan IB. Tetapi Bella usul lain. Dia ngajak ke Slizer Steak House di jalan Darmo. OK!

Cukup diantar Mas Parto dengan becaknya, aku bersama Bella ke restoran Amerika yang terkenal itu. Sama dengan Bella aku pesan shirloin medium 200 gram dengan orange juice berukuran besar. Makanan datang dengan secarik kertas untuk Bella,

"Selamat makan cah ayu-ayu. Ttd. Donny".

Bella melihat sana-sini,

"Haii.. ", dengan wajah sumringah dia nyamperin seseorang yang dikenalnya. Mereka mendekat ke aku. Aku diperkenalkan sebagai teman Bella. Donny menyilahkan kami menyantap hidangannya. Dia telah selesai makan. Dia pamit untuk meninggalkan kami. Semua makanan kami ini telah dibayar oleh Donny. Bella bilang Donny sering main ke jalan IB.

Aku sedang nongkrong sambil makan pisang goreng di warung wak Sena ketika seseorang mendekat dan mengenalkan dirinya sebagai Robet Manu. Tampangnya nampak sangat jantan tetapi juga sedikit sangar. Kulitnya ke-hitaman dengan tubuhnya yang tegap ber-otot. Dia mengajak aku kencan.

Aku tidak langsung mengiyakan, aku perlu konfirmasi dari teman-teman. Terutama dari Bella. Tetapi rupanya Bella telah pergi dengan tamunya. Teman-teman yang lain bilang tak pernah melihat lelaki ini. Ternyata dia memang bukan orang Surabaya. Robet adalah orang Ambon yang kerja di Jakarta dan sekarang sedang bertugas di Surabaya.

Kami para waria memang perlu hati-hati. Banyak orang datang untuk menyalah artikan keinginan baik para waria. Menjadi waria seperti hidup di atas kawasan tak bertuan. Tak ada tempat mengadu. Tanpa ada yang melindungi. Sesudah beberapa saat ngobrol aku merasa tak perlu khawatir tentang Robet ini. Perawakannya tinggi gede dengan kulit ke-hitaman. Tampang Ambonnya nampak jelas. Wajahnya yang tampan dengan kontur wajahnya yang tajam membuat Robet mudah dikenali dari mana dia asalnya.

Ternyata orangnya penuh perasaan dan humoris. Dia seorang engineer pertambangan. Tugasnya banyak di tengah laut. Dia bekerja di off shore milik perusahaan Amerika yang terletak di antara Kalimantan dan Jawa. Sepanjang ngobrol kami saling bersentuhan. Dari balik celana dia meraba penisku. Dan aku juga meraba penisnya. Penis Robet normal saja sebagaimana orang Indonesia lainnya. Sementara dia bilang kagum dengan penisku yang gede.

Terus terang dia telah membuatku bergidik dan merinding. Sentuhan tangannya yang penuh bulu membuat hasrat birahiku bangkit. Aku membayangkan bulu-bulu macam itu menyebar di sekujur tubuhnya. Aku memang sangat terobsesi dengan lelaki macam Robet ini. Lelaki yang penuh bulu dengan tubuhnya yang tegap ber-otot dan kulitnya yang ke-hitaman. Akhirnya aku berdiri untuk mengikutinya saat dia mengajak aku naik taksi menuju ke hotelnya.

Ternyata Robet tinggal di Hyyat Regency Hotel yang bintang 5 itu. Dia bilang mesti tinggal disana sesuai dengan standart yang ditetapkan oleh perusahaannya untuk tenaga staff macam dia, demikian bicara Robet yang terasa merendah. Staff? Bintang 5? Aku yakin dia bukan staff biasa.

Dengan penuh santun, dia mohon padaku untuk secara terpisah menuju ke kamarnya. Dia akan berjalan lebih dahulu untuk menunggu aku. Dia nggak mau nampak berdua-an sama aku. Banyak orang-orang yang telah dikenalnya di hotel tersebut. Aku memakluminya. Back street, begitulah. Aku menunggu sambil 'window shopping' di shopping arcade hotel bintang 5 ini.

Robet tinggal di kamar 515.

Begitu aku mengetok pintunya Robet membuka pintu dan langsung menyambutku. Dia merengkuh tubuhku. Belum sempat aku melihat-lihat kamarnya, bibirnya telah memagut bibirku. Bulu-bulu tercukur di pipi dan dagunya seperti amplas memarut pipiku. Aku dipeluk dengan eratnya.

Aku suka sekali bau tubuhnya. Inilah bau orang jantan. Ada semburat parfum lelaki, tetapi alami tubuh Robet sendiri memancarkan bau khasnya. Aku merengkuh kepalanya. Aku menyambut lumatan bibirnya dengan lumatan bibirku. Masing-masing setengah menutup matanya, merasakan kenikmatan ciuman. Dengan sedikit memutar-mutar wajah yang bertumpu pada bibir kami mencari posisi yang paling pas dan menyalurkan hasrat syahwat kami. Jari-jari tangannya sesekali meremas punggungku. Dan jari-jariku meremasi rambutnya.

Bersambung...

6. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..



Bella cerita bahwa di Tunjungan ada tempat ngumpulnya waria. Di salon B&I, milik Budi dan Ine. Kedua-duanya adalah waria. Ternyata aku aku telah kenal mereka saat sama-sama mejeng di jalan IB. Nyaman juga tempat ini. Beberapa waria nampak sedang mencukur atau merapikan rambut para pelanggan.

Kulihat ada bapak-bapak yang sedang creambath di kursi 7 terus menerus mencuri pandang ke aku. Kayaknya usianya sekitar 50-an. Kumisnya lebat. Ahh.. Sudah lama aku menginginkan kumis macam itu. Aku bayangkan betapa menggelitiknya saat meng-'usel-usel' selangkanganku. Atau saat mengendusi pantatku. Apa dia mau?

Sesungguhnya aku masih ingin ber-lama-lama duduk di salon itu. Sambil nungguin tuh bapak. Siapa tahu dia benar naksir aku. Tetapi Bella mengajak aku 'window shopping' lagi. Apa boleh buat. Menyenangkan teman lebih penting, khan?!

Hari sudah mulai gelap. Jam tanganku menunjukkan pukul 7 malam. Aku lapar. Bella aku ajak masuk ke restoran cepat saji dan banyak pilihan Happy Times. Aku suka makan Thai yang pedas dengan Tom Yam Kung-nya. Bella memilih makan yang lebih ringan tanpa lemak, Salad Tuna. Kami makan dengan santai sambil menunggu waktu ke jalan IB.

Surabaya di waktu sore. Ahh.. Betapa nikmat 'full waria'-ku. Jalan-jalan, 'masochisme erotic', makan, 'ngentot' atau di-'entot', menjilati sperma lelaki ngganteng.. Ini hari ke. 4 ku sebagai 'full waria'.

Sekitar jam 8 malam kami beranjak dan pergi ke jalan IB markas besarnya para waria Surabaya. Saat aku turun dari taksiku, sebuah sedan Mercy 300 SE th. 2004 berderit berhenti di dekatku. Seseorang membuka pintu, turun dan memanggil aku,

"Lisaa.., apa kabar..??". Ramah tetapi aku belum mengenalnya. Dia bergegas mendekatiku.
"Kenali, dong. Oscar", sambil mengulurkan tangannya.
"Aku nunggu kamu, lho. Sudah 1 jam sejak tadi",
"Aku tahu kamu dari Vera. Tuh yang berdiri dekat lampu", Ya.., aku tahu Vera, dia juga teman baikku.
"Mau nggak jalan sama aku. Kita ke motel, yok", bisiknya.

Aku memandang Bella yang menyusul turun dari taksi. Dia menganggukkan kepalanya. Itu tanda bahwa dia mengenal pria ini dan menyilahkan kalau aku minat pada ajakannya.

"Oke, Mas. Terserah Mas deh. Kemanapun aku dibawa terbang aku akan.. Hheecchh.. ", aku teruskan kata-kataku dengan remasan pada selangkangannya.

Itulah dialog para orang jalanan. Vulgar dan'to the point' sesuai dengan tujuan-tujuan utama dari setiap perjumpaan di jalan IB ini. Aku masih pengin tahu, kenapa dia tidak ambil Vera saja. Dan bahkan Vera kemudian menunjukkan ke aku. Ternyata Oscar sedang pengin waria yang berpenis gede. Dan Vera tahu aku.

Kami memasuki halaman motel. Entah di mana ini. Oscar memilih motel VVIP. Sesudah parkir kami masuk ke kamar. Oscar langsung memaguti bahuku. Hatiku berdesir. Lelaki ini sangat terobsesi pada diriku. Saat bibirnya ketemu bibirku aku menyambutnya dengan penuh antusias. Ternyata dia pintar merangsang syahwatku. Lidahnya menjilat rongga mulutku. Ludahku disedot habis olehnya.

Untuk lebih mematangkan situasi aku raih selangkangannya. Kuremasi celana yang membungkus kemaluannya. Kurasakan penisnya yang telah tegang mengeras. Kuelus dan terkadang kupiji-pijit. Kami pelan bergeser untuk rebah ke ranjang. Dengan terus melumat bibir dia menindih tubuhku. Kami berguling dalam dekapan. Sepintas bau tubuhnya menyergap hidungku dan meningkatkan hasrat birahiku.

Oscar mengangkat lenganku ke atas kepalaku. Lembah ketiak putihku terbuka. Dengan histeris dia menjilatinya. Aku menjerit kecil menahan kegatalan yang tiba-tiba menyeruak relung birahiku. Duhh.. Lumatan ituu.., duh jilatannyaa.., duuh isepanyaa.. Bisa-bisa ketiakku penuh cupang nihh..

Tangan Oscar dengan lincah melepasi gaunku. Tanpa melepas isepan pada ketiakku dia urai tali kecil dekat bahuku. Kemudian dia lepas pula BH-ku. Kemudian tangannya menurunkan gaun dan BH hingga ke perutku. Dia mulai melata mengisepi buah dadaku. Duh, mass.. Darahku berdesir-desir merasakan kecupan bibirnya pada ujung pentilku. Aku menggelinjang.

Aku memang tidak membesarkan buah dadaku. Bagaimanapun aku masih tetap seorang manager pada sebuah perusahaan multi nasional dengan karier planning yang bagus dan penuh tantangan ke depan. Kuperhatikan, juga berkat bacaan, tidak semua pria mendambakan buah dada montok. Bahkan bagi pecinta waria, banyak di antaranya yang tetap menghendaki seorang pria saat sama-sama bertelanjang. Aku pikir demikianlah Oscar ini. Dia begitu bernafsu menciumi dadaku.

Dia isepi puting-puting susuku. Dia lumat hingga kuyup tulang rusukku. Kemudian turun ke perut dan pinggulku. Pada saatnya dia raih dan turun lepaskan rokku melalui sepasang tungkai kakiku.
Oscar mulai menjilati bawah perutku.

Di tempat ini birahiku mudah terangsang apabila kena sentuhan-sentuhan erotis macam lidah dan bibir Oscar ini. Aku menggelinjang dan menggeliat-gelitakan tubuhku menahan rasa geli tapi nikmat ini.

Aku tahu sasaran akhir Oscar adalah penisku. Tetapi dia memang pintar. Dia akan terlebih dahulu membuat aku terangsang setengah mati. Ciumannya yang dari perut terus turun tidak menyentuh kemaluanku. Bibir dan lidahnya memindah sasarannya ke ujung kakiku.

Dia turun dari ranjang dan merambahi ujung jari-jari kakiku. Kini siksaan nikmat untukku datang dari arah bawahku. Jiltan dan kuluman lidah Oscar pada jari-jari kakiku sungguh membuat aku blingsatan. Sedemikian geli nikmat yang melandaku membuat aku seperti cacing kepanasan. Memberontak-berontak tetapi tak ingin dilepaskan. Terkadang aku bangun untuk meraih dan mencabuti rambut Oscar sebagai pelampiasan kegelianku. Tetapi Oscar tak mundur. Bahkan lidahnya juga menyelinap pada celah di antara jari-jari itu yang akibatnya uuaahh..,

"Amppuunn.. Oossc.. ",

Dari jari-jari itu dia ikuti lidahnya yang menjulur ke betisku yang sangat mulus.

"Ini benar-benar betis milik Sharon, Liss.. ", masih sempat dia mengingat Sharon Stone yang mirip denganku itu.

Dengan penuh 'greget' Oscar melumat-lumat kedua tungkai kakiku. Aku merasakan betapa lidahnya meratai pori-pori kulitku dan membuat aku gemetar merinding. Gigitan dan sedotan kecilnya meninggalkan tebaran cupang-cupang dari batas lutut hingga ke celah selangkanganku. Oscar juga sangat menikmati selangkanganku. Dia jilat dan kecupi lembah dan palung-palungnya. Aku yang nggak tahan pada rasa geli berkali-kali menahan kepala Oscar dengan sedikit mengangkat untuk menghambat jilatan dan kecupan lidahnya.

Aku menggigit bibirku sambil meremas-remas susuku sendiri untuk serangan syahwatku ini. Oouuhh.. Ampun deh..

Kini, sesudah aku belingsatan karena ulahnya, Oscar mulai menjalarkan lidahnya ke penisku. Dia memulai dengan cara yang sangat erotis. Dengan mengangkat tungkai kakiku hingga pahaku nempel ke dada. Oscar mendapati analku yang terbuka menghadap ke wajahnya. Lidahnya mulai dari sana.

Dia melakukan jilatan bijih pelirku. Bukan jilatan, tetapi lumat dan kuluman sambil hidungnya menikmati aroma yang khas dari wilayah itu. Adduuhh.. Aku langsung seperti terbang mengawang. Wwuuwww..

Kenikmatan syahwatku membuat aku melayang-layang dalam nikmat birahi. Lumatan dan kuluman Oscar membuat aku sangat tersanjung. Betapa seorang Oscar yang ber-Mercy 300 SE ini membiarkan mulutnya mengulum bijih pelirku. Dduuhh.. Ampuunn..

Kurasakan kuluman dan lumatannya berubah menjadi kecupan dan jilatan yang merambah pada seluruh batang penisku. Naik, turun, naik turun, naik.. Dan dia melumat kembali. Kini lumatan itu untuk ujung penisku yang telah menunggunya sejak awal tadi. Ujung itu nampak padat dan menglkilat karena tekanan darah syahwat dari dalam merasakan sentuhan perangkat mulut Oscar. Bibir, lidah dan ludahnya membuat kepala penisku menjadi kuyup.

Cairan birahi yang keluar dari lubang kencingku dijilatinya. Seakan dia memerlukan rasa cairan itu lebih banyak lagi dia terus mengulum-ulum sambil lidahnya berputar menjilati seluruh permukaannya. Yang terjadi kemudian adalah rontoknya pertahananku. Aku tak mampu menahan lajunya spermaku yang terasa mulai keluar dari kantong kemihku. Aku merasakan betapa air maniku kini sedang deras mengaliri seluruh otot-otot di seputar batang penisku. Aku dijemput oleh puncak nikmatku..

Ketika segalanya telah berada di ambangnya, tanganku menggapai-gapai. Aku ingin memerasi sesuatu. Dan jangan salahkan tanganku apabila rambut dan kepala Oscar jadi korbanku. Begitu spermaku mengalir deras untuk membobol pintunya, perasan dan remasan tanganku sungguh menyakitkan kepala Oscar. Dia menjerit kesakitan sekaligus mendesah penuh nikmat. Air maniku yang panas tumpah ruah meluber di mulutnya.

Dengan rasa pedih pada kepalanya Oscar begitu menikmati semburan cairan kental air maniku di mulutnya. Entah berapa banyaknya. Aku langsung terhempas rubuh ke kasur. Seluruh tangan dan sendi-sendiku luruh dan lumpuh. Oscar telah membuat aku ngos-ngosan. Nafasku berkejaran dengan pipa-pipa udaraku yang rasanya terlampau sempit untuk menghirup sebanyak mungkin udara segar.
Aku memerlukan udara segar yang sesegar-segarnya. Aku merentangkan tangan dan dadaku untuk menghirup nafas panjangku.

Aku lihat Oscar masih sibuk dengan menjilat. Spermaku yang berceceran di pahaku dan di kain sprei ranjang motel itu dia jilati hingga bersih. Oscar tak mau kehilangan setetespun cairan nikmat yang keluar dari penisku itu. Kami seling percumbuan dengan makan dan minum yang dipesan dari room service. Oscar nampak sangat puas dan lega. Dia merasakan betapa obsesinya tentang penis gede dari waria cantik macam aku terpenuhi.

Dia terus menggeluti diriku hingga menjelang pagi. Entah berapa banyak cupang-cupang yang telah meratai dengan noda merah-merah di tubuhku. Entah berapa kali dia berhasil mengeluarkan dan meminum air maniku. Entah berapa kali aku mesti menampung air maninya, entah dalam mulutku atau dalam lubang analku. Energiku habis tersedot.

Aku sampai di tempat kostku dengan lunglai. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Aku terbangun jam 11 siang sesudah tertidur tanpa sempat mengganti bajuku. Bella menyediakan mie rebus yang sangat sedap untuk sarapan siangku. Dia benar-benar teman setiaku. Dia juga pulang pagi. Bahkan pulang lebih lambat dari waktuku. Dia tidur di Hotel Hayyat bersama tamu langganannya. Dia menunjukkan tas kulit yang cantik yang dibawa tamunya dari Hongkong.

Aku sangat gembira melihat wajah Bella yang berseri-seri. Aku merasakan betapa persahabatanku dengannya tak akan luntur oleh masa. Hari ini hari yang ke-5 aku 'full waria' di Surabaya. Ternyata sangat melelahkan. Lelah fisik dan lelah non fisik. Aku masih banyak merasakan ketegangan. Mungkin hal yang biasa terjadi bagi orang yang baru merasakan bagaimana 'full waria' setiap hari ini.

Tetapi aku sangat bahagia dan puas. Aku telah melakukan apa yang jadi obsesiku. Aku juga bisa menyalurkan hasrta seksualku setiap hari. Aku ketemu dengan orang-orang yang memberikan aku kebanggaan dan rasa penuh tersanjung. Aku pikir aku mengalami keunikan dalam hidupku.

Tiba-tiba suara Bella menyadarkan aku. Sore ini dia mengajak aku berenang. Wahh.. Pasti seger, nih. Badan lagi capai macam begini paling cocok memang hanya berenang. Dimana Bell? Bagaimana kalau Hotel Novotel di jalan Ngagel?!

Aku pikir Bella lebih tahu dari aku. Jadinya ya, ngikut saja. Terserah pada Bella, pokoknya berenang.. Aku memang sudah siap dengan kemungkinan acara macam begini. Jadinya aku keluar rumah sudah lengkap dengan segala macam perabot untuk renang. Aku akan berenang pakai bikini.

Aku percaya bahwa pinggang dan pinggulku bagus dan indah. Aku yakin setiap orang yang melihatnya akan 'kesengsem' dengan bikiniku. Sebagai waria aku tak kalah seksi dengan para gadis-gadis seksi penolong pantai di serial Baywatch itu. Kembali aku memilih jeans ke-abu-abuan dengan blus biru tua yang menunjukkan sedikit perut dan puserku. Kali ini aku memakai sepatu kets-ku

Bersama Bella aku keluar dari tempat kost dan pakai taksi menuju ke Novotel. Ternyata kolam renang Novotel memang benar indah. Luas dengan suasana tropika yang nyaman dipandang mata. Ditengahnya ada 'sunken bar' yang sangat romantis. Beratap ijuk dengan pohon kelapa kecil di tengahnya.

Saat kami baru datang, semua mata, baik lelaki maupun perempuan pada menengok ke arah kami. Hampir pada setiap kesempatan aku mengalami hal seperti ini. Inilah salah satu kenikmatannya jadi waria.

Aku dan Bella langsung menuju kamar ganti. Nah.. Inilah pesona yang mata-mata haus telah menantinya.. Aku dengan bikini hitamku, Bella dengan bikini putihnya.

Bersambung...

5. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..

Lubang dubur Roni ini begitu bersih dan mulusnnya. Nampak bintik pori-pori seorang 'perawan' tersebar meluncur turun dari bukit pantatnya yang sangat ranum menuruni lembah bokong yang menderas menuju lubang indah itu.

Duburnya sendiri terbentuk dari paduan harmonis dari garis-garis, lipatan dan kerutan yang lembut yang memusat hingga membentuk citra lubang dubur itu. Irama garis dan titik-titik pusat yang menuju citra lubang dubur itu mengingatkan aku akan teori 'black hole'nya Stephen Hawking yang jagoan fisika Inggris itu. Lubang itu akan menelan segalanya.

Dan sebentar lagi penisku aku tertelan ke sana. Apa yang nampak padaku membuat bibirku berkecap-kecap dan lidahku pengin menjilat selekasnya. Aku langsung membenamkan wajahku. Ludahku melumasi seputar anal itu, kemudian lidahku menjilati dan menusuk-nusuk untuk menembusi anus Roni.

Dduuhh.., kenikmatan yang tanpa tepi..

Semburat aroma pantat Roni menerpa hidungku. Dan mendongkrak nafsu birahiku kemudian mendorong saraf-saraf di kemaluanku. Penisku ngaceng banget. Tentu saja lidahku tak akan mampu menembusi lubang dubur 'perawan' itu. Tanganku mulai ingin intervensi. Aku ludahi jari-jariku. Aku raba dubur Roni dan aku coba dorongkan jari-jariku masuk ke lubang itu.

"Aduuhh.. ", suara teriakan dari atas sana. Tetapi suara itu tidak disertai upaya untuk menghindar. Jadi kuulang dan kuteruskan jariku menusuknya pelan. Kutahan untuk kembali mendorongnya. Kemudian kutarik sedikit dan kembali mendorongnya. Lumayan.

Jari tengahku telah berhasil melakukan penetrasi hingga satu ruas. Kini kutarik dulu. Aku pengin mencium dan mengulum sebelum menusuk lebih dalam lagi. Uuhh.. Jariku membawa bau anal yang khas itu dan mulai merasakan rasa sepat di lidahku. Aku semakin bergairah untuk melanjutkan penetrasiku. Kuludah lagi jari-jariku dan kembali kutusukkan pelan ke anal Roni.

"Pelan, Lisaa.. ", ah, setidaknya bukan 'aduh' lagi. Dan kata 'pelan' dari mulut Roni itu artinya agar aku meneruskan penetrasiku.

Kini aku mulai bisa memompa dengan jariku ini. Ujung jari yang sangat peka ini merasakan kelembutan di dalam sana. Dinding anus Roni yang terasa hangat dan licin itu terkadang memberikan empotan pada jari-jariku.

Aku kembali menarik keluar untuk mencium dan mengulumnya. Aku merasakan kembali bau anal yang khas itu dan rasa sepat yang semakin kuat di lidahku. Sementara di atas sana kudengar rintihan dan desah Bella merasakan nikmatnya kuluman mulut Roni.

Mulut Roni terus bertubi meng-'usel-usel' kemaluan Bella. Lidahnya menjalari pangkal, batang dan kepala kemaluan Bella yang gede itu. Sementara tangannya tak henti-hentinya meremasi bijih pelirnya.

Aku tahu Bella sangat mudah terangsang saat kemaluannya diciumi macam itu. Dan rupanya Roni sangat asyik melakukannya. Apalagi suara Bella yang terdengar erotis itu membuat birahi Roni semakin terdongkrak.

Dan aku disini juga sedang terbawa arusnya syahwat birahiku. Melihat indahnya 'perawan' dubur Roni, penisku semakin tak tahan untuk tidak melakukan penetrasi pada Roni. Dan rasanya Roni sengaja membakar nafsuku. Dia tidak mengalihkan perhatian syahwatku. Dia juga tidak merubah posisi nunggingnya. Akulah yang harus tanggap.

Dan aku kemudian bergegas, sekaligus mengimbangi desah dan rintihan nikmat Bella dan Roni sendiri di ujung sana. Aku bergerak bangun dengan penisku yang sudah demikian tegak dan kaku.
Sepintas aku nyamber tas kosmetik Bella. Aku ingat dia selalu membawa 'baby oil'. Aku keluarkan sebotol kecil baby oil dari tas itu dan kubuka tutupnya.

Aku basahi telapak tangan dan jari-jariku untuk kusapukan pada lubang anal Roni dan kusapukan pula pada ujung penisku. Aku ingin upayaku menembusi anal Roni bisa lancar. Sementara itu aku masih berpikir bahwa ini bukan yang pertama bagi dia. Kemudian pelan-pelan kuarahkan ujung penisku dan kudesakkan pada anus Roni.

Sekali. Dua kali. Tiga kali dan..

"Adduuhh.. Pelaann Liss.. ", tangan Roni menggapai-gapai ke arahku dan meraih pinggulku.

Tetapi rasanya aku tak bisa mundur lagi. Saat ujung penisku mulai merasakan bahwa lubang anal itu mulai terkuak, aku telah merasakan betapa nikmatnya tak terhingga. Aku akan terus mendesak-desak lubang itu hingga penisku bisa menembus gerbang dubur Roni. Benar-benar sebuah perjuangan penuh nikmat.

Setiap mili penisku masuk ke lubang analnya, setiap itu pula kenikmatan campur kepedihan menyertai Roni. Dia terus menerus meng-aduh tetapi tak ingin membatalkan upayaku. Aku sendiri merasakan yang sama kecuali rasa pedihnya. Dan yang pelan tetapi pasti itu akhirnya berhasil.

Sesudah sepertiga batangku masuk, aku gerakkan maju mundur untuk mengorek semen pelumas dari anal Roni, kemudian kutusukkan kembali hingga mencapai setengahnya. Demikian ku-ulang-ulang hingga seluruh batang penisku melesak tenggelam ke anal Roni. Sesaat kubiarkan diam. Aku merasakan empotan dinding anal Roni lebih mencengkeram. Betapa nikmatnya. Seluruh pori batang kemaluanku merasakan nikmatnya empotan dinding anal Roni itu.

Sesudah itu aku mulai memompa pelan. Tarik, dorong, tariikk, doroong.. Tarrikk.. Kemudian makin cepat.

Kini Roni benar-benar kesakitan. Mungkin saja saraf-saraf lembutnya pada putus. Pedih dan panas rasanya. Tetapi anak muda tidak sedang menghadapi pilihan. Tak terpikir untuk mundur. Roni mulai menggoyang pantatnya. Bahkan dia mulai merasakan kenikmatannya. Dia mengimbangi seirama tusukkan-tusukkan penisku.

Yang terdengar kini bukan lagi kesakitan tetapi rintihan dan desah
penuh nikmat. Ah.. Perawankuu.. Ronii.., rasanya kenikmatan macam ini tak perlu berakhir.

Sementara itu desahan Bella semakin memanas. Aku melihat betapa Roni sangat terobsesi dengan penis gede Bella. Kepalanya terus nampak memompa naik turun mengulum penis gede itu. Kini pada mulutnya ada penis Bella dan di mulut lainnya, di lubang duburnya ada penisku. Kedua-duanya bergerak dalam pompaan penuh irama untuk menapaki puncak syahwat bersama.

Dan semakin lama dan semakin jauh yang terdengar adalah simpony mulut-mulut yang menanggung derita nikmat. Tiga mulut bersama mendesah dan merintih. Aku mengatupkan kelopak mataku sambil merasakan betapa nikmatnya anal Roni mencengkerami kemaluanku.

Tiba-tiba bibir yang hangat menyentuh bibirku dan kami langsung berpagutan. Bella yang sudah demikian histeris, mencaplok bibirku untuk melampiaskan desakan birahinya yang mulai merambati ambang puncaknya. Dan karena ciuman Bella ini aku juga mulai dijalari keinginanku untuk melepaskan spermaku.

Aku pengin menapaki ambang puncakku. Aku tidak tahu bagaimana Roni menanggung derita nikmat ini. Yang kutahu ldahnya terus menari mengedar dari pangkal hingga ujung penis Bella. Dan pantatnya yang sangat ranum ini terus maju mundur menjemputi penisku yang terbenam dalam anusnya.

Dan inilah puncak bersama itu..

Bella mendahului dengan teriakan nyaringnya sambil cakarnya mencabik-cabik rambut di kepala Roni. Air maninya muncrat ke mulut Roni. Menyaksikan Bella saraf saraf di seputar kemaluanku seakan dirambati aliran listrik yang lembut. Terasa seakan spermaku mengalir melalui jaringan otot-otot pada kemaluanku. Aku merasakan nikmat yang merambat. Aku memeluk sambil menggigit atau menciumi punggung Roni hingga spermaku menyemprot ke dalam analnya.

Dan yang terakhir Roni yang paling menyimpan obsesi-obsesi. Dia telah menelan tuntas sperma Bella. Pantatnya telah menyimpan tumpahan air maniku yang sebagian nampak tercecer mengalir keluar dari gerbang analnya. Nampaknya kini dia memerlukan bantuanku.

Aku bangkit untuk men-telentangkan tubuhnya ke ranjang penuh nikmat ini. Dengan tanganku aku mulai mengocok penisnya sementara ujung lubang kencingnya kucegat. Mulutku mengatupnya agar spermanya tak berantakan ke mana. Roni menggeliat-geliat. Pantatnya naik turun menjemputi kocokan tanganku. Tangannya histeris menjambaki rambutku.

Bellapun akhirnya turun tangan. Dia menelungkup di ranjang untuk melumati bibir Roni sambil tangannya memilin-milin puting susunya. Tak pelak lagi nikmat luar biasa kini bak prahara melanda Roni. Nafasnya memburu disertai desahan yang keluar dari mulut yang terpagut. Dan saat tarikan remas tangannya pada rambutku memedas mulutku merasakan kedutan besar yang disusul semprotan cairan kental yang panas. Kejadian itu datang ber-ulang-ulang.

Roni telah menumpahkan air maninya ber-liter-liter ke mulutku. Air mani Roni bersemburatan dan membusa di seputar bibirku. Dengan penuh nafsu birahi Bella menubruk aku dan melumati mulutku. Dia pengin ikut menikmati sperma Roni dari mulutku. Yaa.. Aku akan berbagi.

Permainan ber-3 sementara usai. Roni mengajak istirahat sambil mencicipi makanan kecil dan minumannya. Kami banyak bercanda dalam suasana penuh keakraban. Dalam berbagai cara dan gaya kami berasyik masyuk sepanjang malam. Hanya karena badan lelah kami berhenti dan tertidur.

Saat aku bangun di pagi harinya kulihat Bella sudah rapi. Dan aku terkejut saat melihat Roni yang sudah rapi pula. Dia telah memakai busana yang lengkap siap untuk pergi ke kantornya. Dia sungguh keren dengan blazer dan dasinya. Kini dia benar-benar tampil sebagai boss. Anak muda cukup kaya yang memiliki usahanya sendiri. Duuhh.. Aku ngaceng menyaksikan penampilannya.

Tetapi aku tak berani mengganggunya. Dia nampak terlalu sibuk dengan HP-nya yang terus memanggil. Dia sudah mulai bekerja untuk perusahaannya. Saat hendak pulang aku usul pada Bella dan Roni bagaimana kalau aku dan Bella diantar saja ke titik keramaian kota wisata Tretes ini. Mereka setuju. Sebelum turun dari mobil Roni menyerahkan 2 amplop tebal untuk aku dan Bella. Roni mengucapkan terima kasih dan 'jangan kapok'. Sewaktu-waktu kapan nanti, dia ingin berjumpa kami lagi.

Aku sedang memasuki hari ke 3 'full waria'-ku. Sesuai dengan programku kini aku bersama Bella berada di titik keramaian kota Tretes. Pemandangan gunung dan kehijauan yang lain melatar belakangi gedung-gedung toko di seputar kami.

Bella lapar, aku juga. Kami masuk ke restoran yang terdekat. Sesudah makan dan minum kopi kami 'site seeing' dengan kereta kuda 'andong' yang tersedia untuk wisatawan lokal. Sekitar 1 jam Pak kusir mengajak kami meninjau obyek-obyek wisata di seputar Tretes.

Seperti biasa kami jadi sasaran pandang para mata haus birahi. Tetapi suasana kami tak begitu mendukung. Kami sekarang tinggal berpikir untuk pulang. Agar praktis dan cepat Bella memanggil taksi. Sekitar jam 1 siang aku dan Bella sudah kembali berada di tempat kost kami. Aku meneruskan tidurku hingga pukul 4 sore.

Sore ini Bella mengajak aku ke Mall Tunjungan yang sangat terkenal berkat lagu Walang Kekek itu. Aku lantas memilih-milih baju yang akan kupakai hingga nanti malam. Kuambil rok berbahan lembut dengan motif kembang-kembang kecil. Ini rok bikinan Poppy Darsono yang disainer top itu. Rok itu seakan hanya digantung pada pundakku dengan tali kecil. Dengan rok Poppy ini aku nampak seksi banget. Bahu dan ketiakku ter-ekspose dengan sempurna.

Aku keluar rumah dengan sepatu taliku yang berhak tinggi. Sepatuku ini membuat betisku tampil sangat ranum. Nampak tumitku yang putih meruntun ke atas hingga betis bunting padiku ini. Dan akhirnya dengan kalung Mikimotto imitasi, Channel no.5 imitasi dan tas kulit Etienne Aigner-ku yang imitasi pula sore itu kami keluar rumah untuk naik bis kota.

Wuuwww.. Seru juga.

Para penumpang bis pada mencuri pandang ke kami. Ada yang tersenyum sinis. Tetapi bagaimana hatinya siapa yang tahu. Ada pula yang mencibir. Biasanya para ibu-ibu, takut suaminya menganggap kami lebih menarik. Ada pula yang mengerdipkan matanya. Mencari peluang dalam kesempitan. Ada pula yang bergaya ramah, menegor.

"Mau kemana, Mbak? Pemilu besok mau nyoblos siapa?".

Mungkin maksudnya dia kepengin kami coblos. Tapi kata Bella, ada pula yang diam-diam mengamati kami sambil tangannya masuk ke saku celananya. Dia masturbasi dengan cara memijit-mijit kemaluannya melalui kantong celananya itu. Lumayan khan, 10 menit mengamati dan mengkhayal tentang kami dalam perjalanan bis ini sudah cukup untuk membuat cairan kentalnya muncrat. Hi, hi..

Kami turun dari bis kota tidak jauh dari Mall Tunjungan. Beberapa suitan dan celoteh erotis membuat hatiku berdesir. Suitan dan celoteh itu mulai aku nikmati sebagaimana saran Bella. Menjadi semacam 'siksaan nikmat' atau 'masochism erotic' yang bisa menggetarkan saraf-saraf birahi. Semakin kejam celoteh dan ejekan itu semakin tinggi efek nikmat yang bisa dirasakan. Sekali lagi darahku berdesir saat berpapasan dengan seseorang yang mulutnya langsung nyerocos,

"Ecchh, banci yaa.., waria yaa.., mau nggap ngisepin penisku..??", vulgar banget tuh orang. Dan betapa orang-orang yang mendengarnya pada tertawa. Bella mencubit tanganku sambil berbisik mengingatkan sebuah prinsip, "Nikmat khan..?".

Bersambung...

4. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..

Lihat tuh, gaya makannya. Uuhh.. Indahnya bibirnyaa.. Rasanya aku mau jadi sendoknya. Mulutnya yang sungguh tegas garis-garisnya membuat Nico nampak sangat jantan. Aku dan Bella langsung jatuh hati.

Nggak usah bayar, deh, Nik. Biar aku jilati dadamu, lehermu, pentil susumu, kaki-kakimu. Biar kuminum ludahmu atau kalau kamu mau, aku juga akan minum air kencingmu. Begitu gelora syahwat yang berkobar di hatiku. Aku sangat berharap dan menunggu lamarannya. Mungkin demikian pula Bella.

Seusai makan kami meneruskan ngobrol sebelum pada akhirnya dia melihat jam tangannya,
"Terima kasih Lisa dan Bella. Saya makan sangat nikmat kerena bersama anda hari ini. Sayang saya harus balik kantor. Siapa tahu lain waktu kita bisa jumpa lagi".

Yaacchh.. Sayaang..

Dengan perasan kesal dan kecewa kami melanjutkan 'window shopping' hingga kakiku pegel. Sekitar jam 2 siang Bella ngajak naik ke Teater Darmo Plasa 21 di lantai 5. Tak ada film yang menarik. Aku usul pada Bella bagaimana kalau kita terusin saja ngobrol di cafe teater itu. Siapa tahu ketemu orang macam Nico lagi. Aku masih penasaran.

Ternyata ini cafe yang sangat laris. Suasananya sangat akrab. Rupanya tempat ini menjadi tempat 'rendesvous' bagi para muda-mudi Surabaya. Kursinya-kursinya nyaris selalu penuh. Kami langsung jadi pusat perhatian. Seorang pelayan menunjukkan kursi kosong di pojok sana.

Aku minta capuchino dengan cake seledri. Entah Bella. Aku rasa banyak mata kini tertuju ke kursi kami. Aku bergaya 'cool', demikian pula Bella. Saat aku menarik kursiku, mataku beradu pandang dengan seseorang yang duduk pada meja sebelah meja depanku. Tidak terlampau menarik, tetapi orang ini, atau tepatnya anak ini gayanya simpatik sekali.

Wajahnya yang bercorak Semit mengingatkan aku pada seorang selebritis cowok bernama Didi Riadi yang pemain drum dan bintang sinetron itu. Tubuhnya hanya dibungkusi kaos oblong ber-iklan rokok kretek terkesan anak yang cuek. Rambutnya yang dilepas begitu saja men-citrakan sebagai anak muda yang santai dan bebas.

Dia mengangkat alisnya. Itu adalah bentuk kontak komunikasi antar para gay atau dengan waria macam kami sekarang ini. Aku memandangnya dengan menebar senyumanku. Sesudah itu kami bermain mata. Bella melihat gayaku dia tersenyum geli,

"Ah, laparnya si Lisaa..!".

Namun rupanya hanya sebatas itu yang bisa dilakukan anak itu. Anak ini tidak berusaha lebih jauh, misalnya mendekat dan mengenalkan dirinya. Mungkin belum percaya diri. Maklum masih sangat muda. Aku taksir paling baru 19 atau 20 tahunan.

Sesungguhnya aku sering mengimpikan anak-anak muda seumur dia ini. Bau tubuhnya masih sangat alami. Dan penisnya saat lagi ngaceng, uuhh.. Keraass banget. Aku juga membayangkan betapa air maninya pasti kental dan pekat. Dan nembaknya sangat kencang saat air maninya muncrat. Mungkin seharusnya akulah yang lebih agresif. Tetapi hal itu tak mungkin kulakukan di tengah orang ramai begini. Yaa.. Sudahlah.

Tiba-tiba pelayan menyodori aku secarik kertas. Ada catatan ringkas,

"Anda berdua sangat cantik. Aku pengin kencan. Bolehkah aku menunggu di parkir mobil lantai dasar? Mau, ya? Aku sangat mengharap.. Ttd. Roni".

Aku tak sempat bertanya ke pelayan dari mana surat itu. Aku serahkan surat itu kepada Bella. Dia tersenyum penuh arti dan kemudian mengangguk. Kembali aku ke meja anak simpatik itu. Ternyata dia telah pergi. 'What ever'-lah. Kini toh ada yang serius menunggu di tempat parkir.

Bella memanggil pelayan untuk membayar. Tetapi sekali lagi, ternyata hari ini uang kami memang tidak laku. Pemberi surat tadi telah membayar seluruh bon makan dan minum kami. Dan orang itu telah meninggalkan ruang cafe ini. Hebat.. Aku merasa sangat bahagia dan tersanjung. Betapa demikian banyak orang yang menaruh atensi kepada kami.

Kami langsung turun ke lantai dasar dengan lift. Begitu keluar lift dan celingak-celinguk mencari siapa yang mengundang kami nampak dari arah depan sebuah BMW seri 5 merangkak mendekati kami. Dari kaca mobil depan yang terbuka nongol anak simpatik itu. Mobilnya berhenti tetapi dia tidak turun karena ada mobil lain di belakangnya yang menunggu jalan. Tetapi,

"Ayoo, Mbak-Mbak, naik sini", sambil tangannya membuka pintu belakang. Kami seperti kerbau yang dicocok hidungnya langsung bergegas memasuk ke BMW itu dari pintu belakang.
"Ini surat anda, Mas, dik?", tanyaku ragu.

Ternyata bacaanku tentang anak ini tidak betul. Walaupun masih muda dia telah menunjukkan percaya dirinya. Dialah yang nulis surat ini kemudian membayar bon-bon kami di kafe tadi dan kemudian tanpa ragu membuka pintu BMW-nya untuk kami.

Panggilannya Roni, dari nama lengkapnya yang Baron Gumilang. Benar usianya baru 19 tahun. Dia mengaku hanya suka dengan waria. Dia bahkan takut sama gadis-gadis. Takut bunting, katanya. Kami tertawa sekaligus mengagumi anak ini.

Disamping tampilannya yang simpatik, gaya Roni yang muda ini sangat dinamis dan berani. Kalau bicara terus terang dan lugas. Dia tidak merasa perlu memberikan pilihan yang rumit ke kami.

"Mbak, aku pengin banget tidur ber-3. Boleh, khan? Bagaimana kalau kita menuju Tretes saja. Pulangnya n'tar malam atau sekalian besok pagi, OK? Ongkos-ongkosnya jangan khawatir, aku yang tanggung. Termasuk untuk Mbak-Mbak. Setuju?", dia begitu lancar bicara.
"Sekedar info, Mbak. Aku bukan sok kaya. Memang aku cukup kaya. Walaupun masih muda aku sudah mandiri. Aku punya usaha Rokok Kretek merk BXX (nama sebenarnya disamarkan) warisan Ortu-ku. Aku punya anggaran khusus untuk rekreasi macam ini".

Rasanya semua sudah ada skenario di otak Roni. Terserah kita, Yes atau No. Ya, tentu saja Bella dan saya tidak akan mengeluarkan kata 'tidak' untuk Roni yang muda dan simpatik ini. Dan rata-rata kami memang sangat merindukan anak-anak seumur Roni ini. Apalagi pergi ke Tretes juga merupakan salah satu rencanaku selama di Surabaya ini.

Sebelum memasuki Tretes Roni turun membeli makanan dan minuman. Aku dan Bella sepakat untuk berpegang pada prinsip 'pokoknya bersenang-senang'. Kami tak mengharapkan uang Roni. Kalau perlu aku pribadi juga ada uang untuk menikmati senang-senang ini.

Kami memasuki sebuah rumah kecil untuk peristirahatan. Udara Tretes sungguh sejuk. Rasanya nyaman banget kalau kita ber-3 akan bisa saling memberikan kehangatan. Roni memasukkan mobilnya ke garasi, menyuruh pelayan memasukkan barang-barang ke rumah. Dia memberikan beberapa lembar ratusan ribu kepada penjaga sambil,

"Pak Mijan boleh pulang dulu, nanti kalau aku pulang malam atau besok pagi kutaroh kunci di atas pintu, ya?". Nampaknya ini rumah Roni. Benar.
"Ini rumah pribadi untuk peristirahatan keluarga. Mereka tahu saya suka kemari dengan teman-teman saya".

Begitu masuk rumah, Roni sepertinya tak mampu menunggu. Sudah kebelet. Dia langsung jamah tubuhku. Dia lumatkan lidahnya ke bahu kemudian leherku. Tangannya langsung mencopoti celana jeansku. Kemudian menyeruak merogoh celana dalamku. Bergetar karena menanggung hasrat birahinya yang menyala, tangannya meraih penisku.

"Wwoowww.., gede banget mbakk.. Uuuhh.. Aku seneng banget, nihh.. ", dielus dan remasi batang penisku yang langsung ngaceng ini. Dia nampak sangat geregetan merabai batang hangatku.

Aku mendesah tak tahan menerima serangan bertubi dari Roni. Kemudian tangan Roni melepas aku dan meraih Bella. Dia merangkul pinggul dan melumat bibir Bella. Kenikmatan main ber-3 macam ini adalah saling menonton teman lain yang sedang bercumbu. Bella menggeliat-geliat saat tangan Roni menggerilya paha dan selangkangannya. Dia menyibak rok Bella dan memasukkan jari-jari tangannya menembus tepian celana dalam Bella. Dia meremasi batang penis Bella yang gede dan panjang juga.

"Uuaacchh.. Aku puaass.. Penis-penis geedeeii..!!", racau histeris Roni.

Tetapi Roni kemudian melepaskan semuanya.

"Lisa dan Bella, kita keluarin dulu makanan dan minumannya yok", ajak Roni sambil meraih kantong plastik dari depan pintu yang memang belum sempat diurusinya.

Roni nampak puas dengan apa yang dia dapatkan. Hal ini membuatnya lebih tenang. Sepertinya dia ingin menikmati banget apa yang dia dapatkan kali ini. Hasrat seksualnya semakin meninggi sejak menyaksikan kemaluan kami. Nampaknya Roni yang anak muda ini siap untuk berasyik masyuk sampai pagi.

Sesudah mengeluarkan berbagai belanjaan makanan dan minuman, Roni melepaskan kemeja dan celana panjangnya. Dengan hanya bercelana dalam dia naik dan telentang di ranjang. Aku terpesona penampilannya. Oohh.., betapa indah tubuh muda.

Aku akan puaskan kamu Ron. Aku akan buat kamu kelojotan menerima nikmat dariku. Pentil-pentil susunya sangat menggodaku. Aku langsung menyusul ke ranjang dan langsung mencium, menjilati dan melumatinya. Gelinjang nikmat langsung merambati Roni. Dia meraih kepalaku, merangkulnya sambil mendesah,

"Enak banget, Liss.. ", dengan setengah menggeliatkan tubuhnya.

Bella menyusul. Dia datang dari arah bawah. Dia jilat dan gigiti kedua tungkai kaki Roni yang berbulu lembut itu. Jilatan Bella langsung membuat Roni kelojotan. Rasa geli nikmat yang sangat telah memaksa Roni beberapa kali bangkit dari telentangnya. Dia buru-buru meraih kepala Bella untuk menahan jilatan dan gigitannya.

"Ampun, Bell.. Aku benar-benar tak tahan. Nikmat luar biasa tetapi aku tak tahan, uuhh.. ".

OK. Kini Bella meruyak ke pahanya. Dia menciumi setiap sentimenter pori-pori paha Roni. Benar-benar Roni kelojotan, tetapi masih mau menahan diri. Dia biarkan Bella meneruskan jilatan dan ciumannya. Tetapi Bella sendiri tidak berhenti di paha. Dia naik menlumat-lumat selangkangan Roni. Dia ciumi gundukan celana dalam yang menyimpan kemaluannya.

Bayangan ukuran penis Roni yang nampak di celana dalamnya normal-normal saja. Tetapi paha dan selangkangannya yang sangat 'perawan' itu membuat Bella demikian bernafsu. Paha dan selangkangan yang sangat 'perawan', begitu bersih dan mulusnya.

Bella tak akan puas-puasnya menjilat dan menciuminya. Dari sana ciuman Bella merambat ke perut dan akhirnya bertemu dengan aku di dada Roni. Aku terus melumat pentil kiri dan Bella melumat pentil kanannya.

Roni seperti raja yang dilayani 2 dayangnya. Dia menggeliat-geliat menahan kegelian syahwat yang menderanya. Desahan dan rintihannya terdengar seperti nyanyian merdu di telingaku dan telinga Bella. Kini aku melata. Lengan Roni kuangkat ke atas kepalanya. Aku pengin banget membuat ketiaknya kuyup oleh ludahku.

Rupanya Bella juga mempunyai keinginan yang sama. Kedua tangan Roni terentang di atas kepalanya. Sungguh merupakan pemandangan yang sangat mengairahkan birahi. Ketiak Roni yang penuh bulu halus sangat mengundang lidah-lidah kami. Lereng-lereng atau lembah-lembah ketiak itu sangat mempesona. Hidungku menangkap bau alami dari tubuh 'perawan' Roni. Dia jauh dari aroma imitasi dan kimia.

Keringatnya yang membasah dan lengket pada ketiaknya memberikan rasa asin dan menebarkan rangsangan pada libidoku. Rasanya kami tak pernah puas merambahkan lidah kami pada lembah dan lereng indah itu. Aku terus menerus menciumi ketiak kiri dan Bella terus menciumi dan menjilat-jilat ketiak kanannya.

Kepala Roni mengayun-ayun ke kanan dan kiri menahan gelinjangnya. Ciuman kami pada ketiaknya membuat birahinya terbakar membara. Di bawah sana kulihat celana dalamnya terangkat menonjolkan penisnya yang telah ngaceng banget. Dengan tangan kiriku aku meraih tonjolan itu untuk mengelusi dan meremasinya. Bella kini bergeser dan beralih melumati bibir Roni. Suara kecupan-kecupan bibir mereka sangat menyenangkan.

Aku sendiri milih turun ke dada kemudian turun lagi ke perut dan turun lagi, turun lagi, turun lagi hingga berhenti di penisnya. Tanganku menarik turun melepaskan celana dalamnya. Nampak penis Roni yang keras dengan kepalanya yang mengkilat banget muncul dari rimba lembut jembutnya.
Aku tahu kini, penisnya tidak disunat. Kulupnya membungkus keindahan kepalanya yang mengintip dengan lubang kencingnya.

Pada kulup dan batangnya yang indah bersih itu menampakkan urat-urat lembutnya. Karena tegang kulupnya terdorong dan menguak memberi jalan bagi kepalanya yang mirip topi baja itu untuk nongol. Dari lubang kencingnya nampak membasah oleh cairan birahinya.

Ah, begitu indahnya paduan batang, kulup, kepala dan cairan birahi itu. Aku tak mampu menahan diri. Pelan-pelan kudekatkan wajahku. Aku menjilati dan makan 'precum' Roni itu.

Tiba-tiba dia bangkit kemudian langsung nungging dan Bella bergeser mepet ke 'backdrop' ranjang sambil merenggangkan pahanya.

Wwoowww.. Rupanya Roni pengin menciumi atau mengulum penis Bella. Aku cepat menyesuaikan dengan perubahan. Kini yang terpampang di depanku adalah pantat Roni. Kembali aku disuguhi pemandangan penuh pesona. Lubang duburnya seorang 'perawan'.

Bersambung...

3. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..

Aku tak bisa merubah posisiku yang nungging saat Arman dengan cepat menggantikan posisi Omen. Dia mulai dengan menjilati pantatku. Aku tahu pasti Arman senang menikmati cairan kental yang mengalir keluar dari duburku. Cairan itu adalah air mani buangan dari penis Omen.

Arman begitu haus dan rakusnya. Pantatku seakan ingin ditelannya. Mulutnya hendak mencaplok seluruh lubang bokongku ini. Kemudian Arman mengikuti jejak Omen. Dia nomplok seperti anjing jantan ke bokongku dan menusukkan penisnya ke lubang pantatku. Dan blezz..

Serpihan cair kental Omen memperlicin lubang analku. Penis Arman yang lebih gede dari milik Omen telah menembus lebih lancar. Penis itu amblas ditelan analku hingga ke pangkalnya. Arman langsung memompa. Makin cepat dan makin cepat.

Rupanya dia telah memendam syahwatnya sejak mula tadi. Kini dia ingin cepat menumpahkannya. Arman ingin selekasnya meringankan beban nafsu birahinya. Kembali cairan panas terasa menyemproti dinding lubang analku. Air mani Arman telah tumpah pula. Arman juga telah meraih kepuasan puncaknya.

Begitulah permainan 'three some' di pondok hotel GP di jalan Yos Sudarso ini. Malam itu anusku menampung 2 batang hangat dan keras milik Omen dan Arman. Mereka meninggalkan cairan-cairan kentalnya dalam ruang anusku yang sempit ini.

Aku mendapatkan kesempatan meraih orgasmeku saat kami kembali ke kamar mandi untuk mandi bersama. Mereka ganti mengencingi tubuhku. Pada kesempatan itu aku mengangakan mulutku dan meneguk air kencing mereka sambil mengocok-ocok penisku hingga air maniku tumpah. Aku merasakan kepuasan yang luar biasa pada malam pertamaku di Surabaya ini.

Saat hendak pulang Arman dan Omen memberikan amplop yang cukup tebal untukku. Omen bilang untuk mengganti celana dalamku yang tenggelam dalam sup kepiting itu. Aku sangat terhibur dengan selera humor mereka yang tinggi. Sungguh senang berteman dengan mereka.

Malam pertama itu aku sampai ditempat kostku pukul 3 pagi. Penjaga kost membukakan pintu. Bella dan teman-temannya sudah tidur lelap. Aku mandi air hangat. Menghilangkan segala noda dan mengurangi rasa pedih pada bibir analku. Kurasakan sisa-sisa air mani kedua sahabat itu mengalir keluar dari lubang anusku.

Aku harus tidur cukup. Masih banyak yang harus kulakukan besok. Saat aku bangun kulihat Bella telah rapi menunggu aku. Sorry, Bell. Aku langsung bergegas mandi dan berpakaian. Ini adalah hari saat yang paling penting dalam kehidupanku. Inilah hari siang pertama bagiku untuk tampil sebagai 'full waria' yang atinya aku akan sebagai waria sepanjang 24 jam sehari.

Selama itu aku akan berpakaian, berbicara, berjalan, bertelpon, bergaya dan melakukan berbagai hal lainnya sebagaimana seorang perempuan. Aku harus nampak selalu cantik. Harus ingat untuk selalu luwes. Mengenai suaraku, aku tak perlu merubah apa-apa. Yang diperlukan hanyalah sedikit mengolah nafas, tekanan pada tenggorokan dan intonasinya pada saat berbicara.

Mampukah aku? Siapkah aku merubah diriku?

Aku memandang Bella. Dia membalas tajam pandanganku sambil mengacungkan jempolnya. Bella memang jadi pendukungku. Dia inspiratorku. Dia pendorong semangatku. Dia memang sahabat sejatiku. Untuk siang pertama ini aku memilih pakaian yang adem dan 'casual'. Aku memakai celana jeans Armani-ku yang lembut dan menampakkan bayangan bokongku yang cukup 'bahenol' ini. Untuk atasannya aku pilih blus tipis dari katun. Dan yang tak ketinggalan, sepatu hak tinggi favoritku.

Blus ini masih menyisakan bahu dan ketiakku untuk bisa dinikmati mata-mata yang penuh hasrat birahi. Dan sepatu hak-ku memberikan sentuhan seksi dan anggun saat aku melangkahkan kakiku.

Kami sepakat menuju ke Darmo Plaza, mall termewah di Surabaya. Bella sudah menyusun program '4 jam di Darmo Plasa'. Dengan perkiraan pada pukul 11 siang kami memasuki kawasan, kami akan 'site seeing' atau 'window shopping', kemudian makan siang di MD atau Mac Donald.

Sesudah makan Bella mengajak main 'play station' di lantai 4 sampai jam 2 siang. Selanjutnya kami akan nonton bioskop di Teater 21 Darmo Plasa itu. Kalau tak ada aral sesudah nonton bioskop kami akan langsung pulang. Woow.. Aku akan benar-benar merasakan bagaimana menjadi Lisa Ramon siang dan malam. Aku akan kenal, ketemu dan berdialog dengan banyak orang. Aku akan terjun membaur dengan siapa saja secara umum.

Hatiku berdesir..

Cobaan untukku sudah nongol sejak keluar dari pintu pagar halaman tempat kost. Aku sudah mulai merasakan betapa banyak mata yang mengikuti langkah-langkah kami. Bella yang telah beberapa waktu tinggal disitu banyak ketemu orang atau tetangga yang telah dikenalnya. Mereka menyapa dengan ramah dan santun. Apabila dia pandang perlu aku diperkenalkan pada mereka. Kebanyakan para perempuanlah yang tidak ragu untuk menyapanya.

Adapun para lelaki, hanya nampak dari matanya bahwa mereka mempunyai hasrat untuk menyapa, namun tak terucapkan. Mereka malu dan takut atau khawatir dianggap naksir waria. Di mata masyarakat umum, waria adalah penyakit. Yang naksirpun dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sakit. Ya, sudah.. Untuk sementara kami harus menerima kenyataan macam begitu. Jangan sakit hati. Memang masih demikian yang terjadi.

Kulihat di depan sana, di pangkalan becak nampak banyak lelaki pada nongkrong. Aku tanya pada Bella siapa mereka. Dia bilang tenang saja. Mereka itu pemuda nganggur di seputar kampung ini. Mereka pada sibuk dengan judi buntut, atau gangguin orang lewat. Ada diantara mereka yang kecanduan narkoba. Terkadang mereka 'malak' atau maksa minta uang dari siapapun. Tetapi Bella tak pernah memandang serius dalam menghadapi orang-orang macam mereka. Sesekali saat pulang malam, Bella membawa rokok untuk diberikan kepada mereka.

Kami terus melangkah tanpa ragu. Nampak mereka mulai menengok ke arah kami. Kemudian ramailah suara dari para lelaki nongkrong itu,

"Hallo, Mbak. Kemana nih yaa..?!",
"Duhh, ganjelannya seksi banget yaa??",
"Uhh jalannya kaya seleb",
"Minta susunya dong",
"Mau naik beca, zus?"
"Atau mau bawa beca sendiri?" Ha, ha, ha, haa..

Kalau ada lontaran kata yang lucu, tak terhindarkan mereka menjadi riuh mentertawakannya. Kupingku terbakar mendengar celoteh mereka. Yaahh.., aku sih memakluminya.

Mereka ini adalah orang-orang awam yang selalu cenderung melihat masalah secara sempit dan na'if. Mereka tidak pernah atau tidak mau atau mungkin tidak mampu membuka wacananya sendiri. Terjebak oleh definisi khalayak tanpa melihat bahwa di balik sikap macam itu terkait adanya nasib, keberuntungan, kegembiraan atau kesedihan, kekecewaan atau kepuasan orang lain.

Bella nyamperin sebuah becak. Sepertinya langganannya.

"Ke Darmo, yo Mas Parto".

Di atas becak aku melirik Bella yang nampak sangat tenang dan anggun. Hebat. Aku berusaha belajar dan meniru sikapnya. Pada lain waktu, di suatu kesempatan dia cerita, bahwa itu bukanlah masalah tenang atau anggun. Dia memberikan tekanan, itu adalah masalah bagaimana kami para waria bisa 'menikmati' sebuah sikap dan fenomena sosial budaya masyarakat di sekitar kita.

Pada saat seperti itu dia justru merasakan hasrat birahinya berdesir. Ejekan, hinaan atau mungkin pelecehan pada waria justru membangkitkan semangat syahwatnya. Bella justru membayangkan para lelaki itu berada dalam pelukan birahinya. Mereka akan terus menceloteh dengan hinaannya atau pujiannya sementara penis-penis mereka ada dalam lumatan atau kuluman kami. Celotehan mereka bukan lagi untuk merendahkan waria yang melumat selangkangannya tetapi sebagai ungkapan birahi mereka saat menapaki ujung kepuasan libidonya. Tidak mudah. Tetapi aku berusaha keras untuk mencerna kata-kata Bella yang diungkapkan berdasarkan pengamatan, pengalaman dan analisa rasionalnya.

Ternyata Darmo Plasa hanya sekitar 20 menit dari rumah kost. Mas Parto adalah tukang beca langganannya. Bella sarankan padaku kalau pergi pakai saja becak Mas Parto. Atau cari yang namanya Darman teman Parto. Mas Parto tahu membawa becaknya melalui jalan tembus, lewat gang-gang kecil di kampung. Jarak Darmo Plasa tinggal separohnya.

Begitu turun dari becak aku kembali menyaksikan mata-mata yang haus. Mereka ini sedikit ada beda dengan para lelaki yang nongkrong di mulut gang tadi. Mereka dari strata sosial yang lain. Mereka lebih diam. Dalam sikap diam itu nampak matanya menjadi lebih jujur. Aku merasakan mereka itu 'kepincut' atau terpesona.

Dan aku pastikan bahwa hasrat libido mereka mendapatkan ruang dalam dirinya. Entah macam khayal yang bagaimanapun. Nampak seorang pria muda datang pelan mendekat. Dia memandang aku dengan sorot 'naksir' tetapi tidak menghentikan langkahnya. Yang kemudian aku tangkap hanyalah suara desis dari bibirnya 'sspp'.

Aku tahu yang dia maksud. Itu khan bahasa para banci. Pertama kali aku dengar desis macam itu di Taman Lawang, Jakarta. Saat itu aku sedang berkunjung sebagai tamu. Aku berhenti ingin tahu apa yang mereka ucapkan.

Ooo.. Ternyata yang dimaksud adalah 'isep' yang diucapkan secara ringkas dan cepat 'sspp'.

Mereka menawarkan jasanya untuk menghisap atau mengkulum penis tamunya. Dan akhirnya para tamupun menggunakan desis itu untuk bertanya 'maukah kamu mengisep kemaluanku?'.

Aku hanya tersenyum. Aku tidak bereaksi serius. Banyak orang macam dia yang belum tentu benar-benar menginginkan kami untuk mengisep-isep penisnya. Woow, mall Darmo Plasa ini memang luas dan tidak kalah dengan mall-mall di Jakarta.

Bella ingin menemui temannya yang punya salon Rudy di lantai dasar. Aku diperkenalkan dengan pemiliknya. Namanya Rudy sesuai dengan nama salonnya. Dia banyak mempekerjakan waria di salonnya itu. Rudy sendiri mengakui sebagai seorang 'gay'. Rudy nawari kalau aku mau kerja selaku asisten manager di salonnya dia akan menerimanya dengan tangan terbuka. Bella yang menanggapinya sambil menebar senyum,

"Kamu mau ngabisin uangmu untuk menggajih dia, Rud? Lisa ini adalah manager perusahaan multi nasional Jakarta yang sedang menikmati liburannya. Dia sedang menikmati bagaimana setiap hari tampil sebagai putri yang cantik dan anggun".

Rudy bengong tetapi lantas balas senyuman Bella. Dia menawarkan soft drink pada kami. Dari Rudy Salon kami melakukan 'window shopping'. Jalan pelan-pelan di tengah ramai lalu-lalangnya para pengunjung sambil menyaksikan etalase toko-toko yang menawarkan berbagai barang yang serba menarik. Sesekali berhenti untuk memenuhi keingin-tahuan akan barang, melihati harganya, melihati mutunya dan sebagainya.

Tentu saja mataku yaa.. Jelalatan. Mata yang selalu haus kalau melihat lelaki-lelaki ganteng.
Terkadang aku mencubit lengan Bella saat menyaksikan seseorang,

"Kamu gatel banget, sih, Lis", komentarnya sambil mengusapi pedasnya cubitanku.

Entah aku diajak kemana saja sama Bella ini. Naik turun lift dan eskalator. Masuk toko sana-sini dengan gaya hendak belanja. Nyoba ini-itu seakan-akan sedang mencari barang yang sangat dibutuhkan. Nawar segini dan segitu seolah-olah benar-benar akan beli. Walaupun aku agak ngeri akibatnya, senang juga melihat gaya Bella temanku ini. Lihat saja, begitu keluar toko dia tertawa atau cekikikan mentertawakan ulahnya sendiri. Setidak-tidaknya aku jadi lebih santai dan terhibur.

Akhirnya kami istrirahat untuk makan dan minum di Mac Donald. Aku kebagian ngantre, sementara Bella menunggu di meja agar tidak ada yang menyerobot tempat duduk. Jam makan siang begini membuat MD penuh orang mau makan. Sesekali aku menengok ke meja Bella untuk sabar menanti antreanku yang panjang ini.

Aku pesan untuk Bella dan makanan favoritku plus 2 gelas Coca Cola jumbo. Total Rp. 60.000, -
Saat aku mau bayar kasir bilang bahwa sudah ada yang membayar. Tangannya menunjuk kepada seorang pria yang telah berada di luar antrean. Orang itu tersenyum padaku sambil mengulurkan tangannya ke kasir untuk menerima uang kembaliannya. Ah, sungguh merupakan kejutan bagiku.

"Ah, Mas koq repot-repot sih. Aku mesti bilang apa??",
"Nggak pa-pa. Soalnya aku pengin kenal kamu lho. Itu temanmu khan? Kita duduk di sana?", sungguh lelaki yang handsome.

Tingginya sama dengan tinggiku dengan sepatu hak yang kupakai kini, sekitar 180 cm. Dengan kemeja Piere Cardin dan dasinya yang Valentino serta aroma Clinique Happy For Men-nya Estee Lauder yang lembut itu dia nampak sangat gentlemen.

"Nama saya Nico. Kebetulan lagi istirahat makan siang lihat cewek-cewek cantik. Nama anda siapa?", Bella dan aku sama-sama terpesona dengan pria yang tiba-tiba muncul di haribaan kami ini.

Bersambung...

2. Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya..

Ternyata ada kejutan buat aku. Begitu masuk ke pondok mereka langsung saling berpagutan. Ah, rupanya mereka ini biseks atau gay. Mereka lakukan itu tanpa ragu di depanku. Tetapi aku sendiri yang juga punya selera berbagai jenis, sangat terangsang melihat mereka berdua berasyik masyuk. Naluriku tak bisa tinggal diam. Aku mendekat dan tangan-tanganku menjamah celana mereka. Aku meremasi kemaluan yang telah sama-sama ngaceng di balik celana-celana mereka.

Ah.., ternyata kami bisa saling mengisi. Kami bertiga langsung larut dalam arus birahi yang mengalir begitu saja. Layaknya para pemain musik jazz, dengan penuh 'improvisasi' kami meluncur dengan begitu lancar memainkan peran masing-masing.

Mereka yang berdiri demikian asyiknya berpagutan, aku yang jongkok kelantai mulai membuka kancing-kancing celananya. Aku membetot penis-penis mereka dari tempatnya. Aku mendapatkan batang-batang kemaluan lelaki yang mendendam syahwatnya. Kedua penis itu demikian tegang dan berkilatan kepalanya. Kedua penis itu hampir semua luar biasa ukurannya. Diatas rata-rata ukuran orang Indonesia.

Sungguh menjadi serba ideal bagiku. Aku tak tahan lagi untuk tidak melumatinya. Aku mulai mencium dan menjilati salah satunya, sementara tanganku mengelus atau mengocoki kemaluan lainnya. Duuhh.. Asyiknyaa..

Terus terang aku sungguh nikmat malam pertama di Surabaya ini. Ketika telah puas saling berciuman kini mereka mulai memberikan perhatiannya padaku. Arman menyapu kepalaku sambil meremas-remas rambutku. Sementara Omen menyusul jongkok. Dia ingin kebagian ikut menciumi kemaluan Arman. Kami berbagi. Omen berhadapan denganku untuk sama-sama melepaskan jilatan dan ciuman pada penis Arman.

Sesekali aku menyambar mulutnya. Aku pengin banget melumat bibir tebalnya itu. Kami saling berpagut sambil tetap mengurut-urut kemaluan Arman. Pada gilrannya Arman menarik tanganku untuk berdiri. Dia menjemput bibirku. Kami berpagutan pula sementara Omen melanjutkan kuluman pada kemaluan Arman. Kurasakan tangan Omen menyingkap gaunku dan menarik turun CD atau celana dalam-ku. Dia meraih kemaluanku yang juga sudah ngaceng banget.

"Uuhh.. Gede banget penismu, Lisa.. Uuuhh.. Hhllmm.. ", dia menyeru dan langsung mulutnya menerkam dan melumat batangku.

Mendengar ucapan Omen, Arman nampak penasaran. Dia menurunkan bibirnya. Dia menjilati leherku kemudian pundak dan dadaku. Dia juga mendorong bergeser untuk mendekat ke ranjang. Tangannya berusaha menggapai kemaluanku yang sedang dalam lumatan temannya. Akhirnya kami sama-sama rubuh ke ranjang. Disini kami terhenti sesaat.

Rupanya itu semua tadi sekedar 'intro' atau pemanasan. Omen bangkit dari ranjang menuju ke pesawat telpon.

"Mau pesan makanan dan minuman apaan, nih?", dia nyambung ke room service.

Untuk sementara kami saling menahan diri. Sambil menunggu datangnya makanan dan minuman kami memakai kembali apa-apa yang telah lepas dari tubuh kami. Namun saat aku hendak mengambil CD-ku, Arman lebih cepat meraihnya. Dia tersenyum-senyum mengamati celana dalamku. Kemudian sambil mendongakkan leher dan menutup matanya dia mendekatkan ke wajahnya dan menciuminya. Ahh, mau apa aku?

Omen mentertawakan ulah Arman tetapi kemudian merebutnya. Dia juga menciumi celana itu. Dia bilang CD Lisa yang cantik ini sangat harum baunya. Aku sungguh sangat tersanjung oleh ulah kedua orang itu.

Datanglah saat makan. Di meja nampak penuh jenis makanan dalam menu oriental. Ada sup kepiting yang nampak sangat enak dan berbagai sayur serta lauk pauk. Untuk minumannya disamping beberapa gelas air mineral Omen juga pesan 3 botol bier besar. Bukan main. Kami pesta besar, nih.

Nah.., ternyata kelakar erotis mereka belum usai. Masih berkisar celana dalamku. Omen memungut CD-ku yang tergeletak di ranjang dan tidak sempat kubenahi. Dia ceburkan CD itu ke mangkuk sup kepiting yang sangat enak itu. Sendoknya dia gunakan untuk menekan-nekan hingga tenggelam kemudian mengaduk-adukkan dalam kuahnya,

"Ah, nikmatnya sup kepiting campur CD Sharon", sambil bibirnya nyengir dalam senyuman.

Arman nampak tak acuh saja. Dia sendok sup itu ke piringnya dan makan dengan lahapnya. Begitu juga Omen. Dan aku? Yaa.. Aku ngikut saja.., toh celana dalam-ku sendiri.

Malam itu mereka benar-benar ingin santai. Nampaknya tidak dikejar-kejar waktu. Dalam hal syahwatpun Omen dan Arman nampak tenang, tidak terburu-buru dan dengan sepenuhnya menikmati apa yang sedang berlangsung.

Sehabis makan kami merokok dan ngobrol sambil menghabiskan bir besar kami pelan-pelan. Terus terang aku tak biasa minum bir. Walaupun tidak mabok, aku jadi kebelet kencing. Aku pengin banget ke toilet. Aku berdiri dan melangkah ke sana.

Arman menyapa, "Ngapain Lis?",
Yang aku jawab dengan apa adanya bahwa aku pengin kencing.
"Ikut!", sambung Arman,
"Aku juga ikut!', sergah Omen.
"Apa lagi, nih??", batinku setengah heran bertanya. Orang mau kencing, koq ikut?!

Mungkin mereka ingin menonton kemaluanku yang dibilang gede sama Omen tadi. Begitu pancuran kencingku yang terarah ke bibir kloset mancur, Arman memutar pinggulku dan kemudian jongkok. Karuan saja air kencingku berceceran ke lantai dan bahkan ke muka dan tubuh dia.

Tetapi memang itu yang dia kehendaki. Bahkan lebih dari itu. Dia membuka mulutnya untuk menadahi air kencingku. Dan glek, glek, glek.. Air kencing bening dengan warna pekat kuning yang mancur keluar dari kemaluanku itu dia minum dengan rakus penuh kehausan. Oowww.. Sungguh surprise bagiku. Kembali perasaan tersanjungku mengembang melihat tingkah Arman ini.

Omen mengambil bagiannya. Dia mendekat ke Arman. Dia ciumi tubuh Arman. Dia jilati dan minum air kencingku yang basah mengalir di tubuh kawannya itu. Bahkan Arman kini duduk ke lantai untuk memudahkan Omen melaksanakan keinginannya. Kemudian sebelum habis kencingku, Omen juga meraih penisku. Dia masukkan ke mulutnya sementara pancuran kencingku masih mengalir deras. Dia meneguknya sambil membiarkan sebagian lainnya tercecer ke tubuhnya pula. Ahh.., mereka berdua yang nampak begitu menikmati dan minum air kencingkuu..

Sesudah itu kami melanjutkan keasyikan penuh erotisme ini. Arman meminta aku menghadap ke cermin membelakanginya. Dia sosorkan mulutnya ke belahan pantatku. Dia mencium dan menjilati analku. Sementara itu Omen bangkit untuk meraih bibirku. Kami berpagutan. Lidah Omen menyeruak ke mulutku. Kami bertukar ludah. Omen meraih tanganku agar meremasi penisnya yang luar biasa itu.

Duuhh.. Sungguh sangat sensasional. Sementara di mulut lidah Omen si pria ngganteng ini dalam lumatanku, di bawah tanganku mengelusi batang penis gedenya yang hangat dan kenyal itu. Dan di belahan pantatku, aku merasakan lonjakan rangsangan syahwat birahiku karena Arman si pria ganteng lainnya demikian asyik berusaha menjiltai lubang pantatku.

Berikutnya, Arman mengalihkan perhatian. Dia bergeser ke antara aku dan Omen. Dia raih kemaluanku yang telah tegang sejak awal tadi. Dengan sepenuh nafsunya dia jilatkan lidahnya melata ke pangkal dan batang penisku. Dia cium, sedot dan lumati bijih pelirku.

Kepalanya bergerak naik turun menanjaki batang kemaluanku yang tegak berdiri ini. Dan saat mulutnya mulau menelan batang penis, aku tak mampu menghindarkan getaran birahiku. Aku mendesah keras,

"Acch.. Hhuucchh.. Hhaacch.. ". Tanganku melepaskan remasan penis Omen berganti meremasi rambut Arman untuk menahan kegatalan yang amat yang menyerang nafsu birahiku.

Aku juga sedikit menggoyang-goyang maju mundur pantatku. Aku berusaha menusuk-nusukkan kemaluanku ke bibir Arman. Omen menyusul menggeser sasarannya. Bibirnya turun menelusuri bukit dadaku. Dia mencaplok dan mengenyot-enyot puting susuku. Menggigit kecil dadaku dan kemudian seputar tulang rusukku. Woowww.. Aku jadi begini menggelinjang.

Aku bergetar merasakan serangan dua orang berkawan ini. Mereka sangat kompak menyatu yang membuat syahwat birahiku naik ke ubun-ubunku. Aku menahan diri untuk tidak berbuat menyimpang dari mereka yang sedang terhanyut oleh pukau tubuhku ini. Aku mengikuti saja gairah macam apa yang sedang mengalir pada birahi mereka.

Ciuman Omen terus meluncur turun. Kini Arman dan Omen seakan memperubutkan penisku. Mereka saling berhadapan untuk menciumi dan melumat-lumat kemaluanku ini. Terdengar dua nafas berat yang memburu. Aku menyandarkan diriku ke meja toilet.

Arman dan Omen seperti anak lembu yang sedang berebut payudara induknya. Mereka saling bergantian menyosori kemaluan dan bijih pelir di antara selangkanganku. Aku kini yang mulai tak tahan terhadap syahwat yang melandaku dengan hebatnya. Aku mulai merasakan kegatalan dan hasrat birahi yang luar biasa di seputar selangkanganku.

Pemandangan erotis yang disuguhkan kedua sahabat pada selangkanganku ini membuat aku nafsu syahwatku terus menanjak dan membara. Aku perlu pelampiasan. Aku bergerak dan bergeser tanpa memutus tingkah Omen dan Arman pada bagian-bagian tubuhku. Aku menuntun keluar dari kamar mandi menuju ke ranjang.

Kembali seperti anak lembu, Omen dan Arman terus mengikuti geseranku tanpa melepas sosorannya pada kemaluan dan bijih pelirku. Begitu menyentuh tepian ranjang aku langsung rebah ke kasur. Kedua teman, Arman dan Omen langsung merentang pahaku. Kehausan anak-anak lembu ini belum juga usai. Mereka kembali menyosori kemaluanku.

Namun Omen mulai bergeser. Dia menciumi selangkanganku. Menyedot dan menggigit-gigit lembah pahaku. Menjilati pori-pori pahaku.

"Ddiihh.., mmaass.. Ampuunn.. Lisa nggak tahan niihh.. ", aku mulai memperdengarkan desahan dan rintihan.

Nampak kedua sahabat ini terpacu oleh desahan dan rintihanku itu. Tanganku kembali meremasi rambut-rambutnya. Rasanya di seputar selangkangan dan pahaku telah basah kuyup oleh ludah-ludah mereka. Tiba-tiba aku merasa ditinggalkan.

Aacchh, benar..

Saat aku menengok kulihat Omen dan Arman berasyik masyuk sendiri. Mereka saling pagut di kesempitan celah selangkanganku. Tangan-tangan mereka juga saling meremasi. Nampak mereka begitu tenggelam dalam nikmatnya mengumbar birahi.

Aku jadi pengin mengamati mereka. Aku bergeser dan bangkit. Saat nampak jelas kelakuan mereka, aku terpengaruh untuk 'joint'. Aku kembali rebah ke kasur, tetapi kali ini dengan setengah nungging ke arah yang berlawanan. Kepalaku rebah ke kaki-kaki mereka dan pantatku di atas kepala mereka.

Sementara mereka masih asyik berpagut kuraih kaki Omen yang penuh bulu itu. Aku ciumi dan gigiti betisnya. Bulu-bulunya kulumat dalam olahan cermat lidahku. Omen langsung menggelinjang. Seakan mau ditariknya kakinya, tetapi tak juga untuk dilepaskan dari lumatanku. Dia menikmati apa yang kulakukan padanya. Dia elusi kepalaku.

Kemudian kulakukan yang sama pula pada kaki Arman. Reaksi Arman sama dengan Omen. Dia elusi rambut-rambutku sambil memperdengarkan desahannya. Dari betis-betis ciumanku merambah ke paha mereka. Aku sangat menikmati pori-pori paha kedua sahabat itu. Aku juga menikmati betapa bau ke-lelaki-annya begitu merangsang dengan kuat dari paha dan kemudian selangkangan mereka.

Yang terjadi berikutnya adalah Omen yang bangkit dari kasur.Dengan merangkak dia bergeser dan mendekati aku dari belakang kemudian meraih bokongku. Beberapa saat dia memuaskan dirinya dengan menciumi pantatku. Lidahnya menjilati anusku.

Jangan tanya betapa nikmat yang menerpaku. Aku dibuatnya menggeliat-geliat tak terkendali. Lidahnya yang seakan menusuki pantatku mendongkrak hasrat birahiku. Aku menjerit kecil menahan nikmat yang mendera. Kemudian Omen bangkit seperti anjing jantan. Dia menomplok aku sebagai betinanya. Dia ingin melakukan penetrasi.

Aku langsung merasakan kegelian erotik saat penisnya menyentuh bibir anusku dan mendorong-dorongkannya. Diawali rasa pedih dan panas penis Omen berhasil menembusi lubang duburku. Saat memompa, aku mulai merasakan betapa nikmatnya kemaluan yang gede ini menyeruak di dalam lubang anal ini. Aku mendesah ketagihan.

Aku ingin kenikmatan ini tak pernah berhenti. Aku ikut menggoyang pantatku. Aku ingin tusukkan itu lebih masuk menyeruak ke dalam lagi. Tetapi ternyata tak lama..

Sesudah semburan panas kurasakan di dalam anusku kulihat Omen lunglai dan rebah ke kasur.Ahh.. Dia telah meraih kepuasan puncaknya. Kurasakan ada cairan kental lengket pada bibir analku.

Bersambung...